Bagikan
Highlight Cover
Cerita Jenius

Jajan dalam Era Pandemi COVID-19

12 October 2020  |  Penulis: Dari Halte Ke Halte

Sejak pertama membuat akun media sosial Dari Halte Ke Halte (DHKH), HalteMin—sapaan untuk admin—sangat menikmati pekerjaan tambahan ini. Bagaimana tidak, kegiatannya jalan-jalan, makan-makan, dan ngopi-ngopi melulu—semuanya dilakukan dengan naik transportasi umum.

Kemudian, bila menarik, HalteMin akan mengulas dan merekomendasikan jajanan-jajanan tersebut kepada semua HalTeman—kalau ini sapaan untuk para pengikut akun media sosial DHKH—lewat Instagram @darihalte_kehalte dan Twitter @drhaltekehalte.

Min, berapa sih budget jajannya?

Beberapa kali ada HalTeman yang kepo menanyakan berapa budget HalteMin untuk kegiatan DHKH. Hmm… sebentar, HalteMin buka fitur Moneytory dari Jenius untuk melihat untuk apa saja, dan berapa, pengeluaran sebagai admin DHKH selama ini.

Ah, tidak sebesar yang disangka kok. 😉 Alasannya sederhana, budget pengeluaran sebagai HalteMin DHKH bisa disatukan dengan budget makan sehari-hari di luar rumah.

Kok bisa?

Bisa dong. Bekerja mengulas makanan dan minuman bukan berarti harus makan lebih dari tiga kali sehari. Yang perlu dilakukan adalah mengatur jadwal tempat yang akan diulas sesuai dengan jadwal makan hari itu. Sama saja dengan teman Jenius yang harus makan, dari sarapan sampai makan malam, di kantor. Kalian pasti sudah menyisihkan budget tersendiri, kan?

Baca juga: 7 Financial Hacks yang Bisa Dilakukan Warga Jakarta

Perbedaannya mungkin biaya tambahan yang dikeluarkan untuk transportasi karena HalteMin harus mengulas berbagai tempat yang tersebar di Jabodetabek. Tapi, biaya transportasi umum massal di Jakarta lumayan murah. Tiket TransJakarta sekali naik ke mana pun hanya Rp3.500.

Selain itu, penghematan budget ini juga mudah. Selama kartu Jenius x BNI TapCash selalu diisi, HalteMin tidak perlu membeli kartu single trip untuk naik MRT atau KRL. Lumayan sekali untuk HalteMin yang sudah entah berapa kali kehilangan uang deposit kartu gara-gara lupa menukarkan kartu sebelum memakai kartu uang elektronik.

Baca juga: Top Up Saldo TapCash Tinggal Tap dengan e-Wallet Center

Alasan terakhir budget sebagai admin DHKH tidak besar adalah karena HalteMin biasanya makan di kedai UMKM atau street food yang harganya relatif terjangkau. Jadi, tidak akan bikin kantong bolong!

Nah, kalau kamu punya hobi sama seperti HalteMin yang suka mencoba berbagai jenis makanan terutama dari penjuru nusantara, tidak perlu khawatir. Kota Jakarta sangat tepat bagi orang-orang seperti kita karena Jakarta adalah ibu kota kuliner nusantara.

Di kota yang menurut Badan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memiliki sekitar 56.000 penjaja street food (2015) ini, kita bisa menemukan makanan dari pulau yang lokasinya lebih dekat ke Malaysia dan hanya bisa ditemukan di kota Batam, yaitu Mie Terempa’k. Kita pun bisa menemukan masakan Manado atau Bali yang enak di Jakarta, yang mungkin sulit kita temukan di Banda Aceh dan sebaliknya.

Soto Betawi paling enak? Rasanya sulit membayangkan ada kota lain yang menjual soto Betawi yang lebih enak daripada racikan Bang Haji Husein atau Haji Mamat di Jakarta, kecuali mereka buka cabang di kota itu.

Baca juga: 12 Jam Jadi Turis di Jakarta, Ibu Kota Kuliner Nusantara

Tetap jajan selama #dirumahaja

Tiba-tiba, pandemi menyerang. Buyar sudah semua rencana ngider bareng dan makan-makan. Walaupun jarang keluar rumah sejak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), HalteMin tetap bisa menikmati berbagai jajanan favorit. Dengan mengontak para penyedia jastip DHKH, HalteMin dapat menikmati donat kentang Tomaple atau gudeg Bu Tinah setiap saat.

Teman-teman Jenius mungkin bertanya-tanya, apa sih yang dimaksud dengan jastip DHKH? Secara umum, jastip adalah kependekan dari jasa titip, biasanya banyak digunakan kalau kita ingin menitip untuk dibelikan skincare dari Korea atau baju dari Bangkok. Nah, kalau jastip DHKH, yang dititip adalah jajanan kaki lima rekomendasi DHKH, seperti Dimsum Arsyif atau Nasi Bebek Cak Malik.

Jastip DHKH sudah berjalan sejak Agustus 2019, dipelopori oleh dua orang HalTeman bernama Bryan dan Ana. Namun, kegiatan perjastipan ini baru benar-benar meledak pada awal PSBB bulan April 2020 sejak HalteMin menggelar kampanye #JastipDHKH.

Salah satu tujuan kampanye #JastipDHKH adalah membantu HalTeman agar betah di rumah dengan tetap bisa menikmati berbagai jajanan favoritnya. Awalnya, banyak yang curhat kangen makanan atau jajanan yang biasa mereka nikmati saat masih bisa keluar rumah tanpa batasan. Dengan adanya jastip, rasa kangen itu setidaknya terobati.

Lantas, apa bedanya jastip DHKH dengan layanan pesan antar ojol—ojek online—yang lain? Perbedaan utamanya adalah kita bisa memesan beberapa jenis makanan dan minuman dari berbagai tempat berbeda sekaligus, hanya dengan satu ongkos kirim! Kalau mau cari yang bisa dititipi beli jajanan, teman Jenius bisa cek akun Instagram dan Twitter DHKH yang menjadi media perantara yang menghubungkan calon pembeli dan para penyedia jastip alias jastiper.

Baca juga: 5 Ide Kegiatan yang Bisa Kamu Lakukan Usai PSBB

Bertahan di tengah badai pandemi COVID-19

Tidak terasa, kampanye #JastipDHKH “berskala besar” sudah berjalan hampir enam bulan. Kampanye yang juga bertujuan membantu para pelaku UMKM bertahan di tengah pandemi COVID-19, sekaligus membuka peluang usaha jastip, membuahkan hasil positif.

Misalnya, Bakwan Pontianak. Dulu, pebisnis Bakwan Pontianak rata-rata menghabiskan 3 kg adonan bakwan, tapi sejak direkomendasikan DHKH, kebutuhan adonannya naik hingga 12 kg! Walau sempat mengalami penurunan pada awal pandemi, penjualan Bakwan Pontianak kembali naik sejak kampanye #JastipDHKH bergulir. Sekarang, mereka bahkan sudah membuka tujuh cabang di sekitar Jabotabek dalam waktu kurang dari enam bulan.

Cerita lain DHKH dapat dari pemilik gerai roti bakar Bandung Agus Robaba yang mengaku bahwa sebelum dipromosikan DHKH, roti bakar Bandung buatannya paling banyak laku 20 porsi. Kini, roti bakar ini bisa laku 300 porsi dan Agus pun harus menutup gerainya tiga jam lebih cepat dari jadwal karena stok habis.

Ada juga cerita dari penyedia jastip yang menggunakan akun Twitter @jastipjaktim dan Instagram @sijastipjaktim. Sebelumnya, jastiper bernama Rijal ini bekerja lapangan dalam bidang survei. Karena proyeknya sedang dihentikan, saat ini mengurus jastip menjadi pekerjaan utamanya untuk membiayai kebutuhan hidup.

Demikian juga dengan Natalia, yang mempromosikan layanan jastipnya lewat akun @nathmeong. Perempuan yang sebelumnya berprofesi sebagai driver ojol ini sekarang berfokus mengerjakan jastip. Menurut pengakuan Natalia, hasil jastip membuatnya bisa membayar tagihan bulanan, makan sehari-sehari, dan membeli susu anaknya.

Masih banyak lagi cerita dan kreativitas para jastiper. Ada yang bergabung membentuk satu kelompok yang bisa saling membantu melayani pesanan. Ada yang bahkan bisa mengantarkan sampai ke luar kota seperti ke Bandung bahkan hingga ke Malang. Kisah-kisah ini membuktikan bahwa dalam kesulitan selalu ada peluang bagi mereka yang jeli melihat dan sigap merebutnya.

Cara aman untuk jajan

Komponen lain yang sangat besar peranannya bagi keberhasilan kampanye #JastipDHKH adalah HalTeman yang telah membeli makanan dan minuman yang dijual para pelaku UMKM dan diantarkan oleh para jastiper. Hal ini juga dilakukan tanpa harus keluar rumah dan dengan kontak fisik seminim mungkin, yang berarti membantu usaha melandaikan kurva pandemi dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

Nah, salah satu cara paling efektif untuk mengurangi kontak fisik adalah dengan bertransaksi keuangan nontunai menggunakan fitur Jenius favorit HalteMin: $Cashtag. Ketika pertama kali mencobanya, yang terpikirkan adalah “Ide ini keren banget” dan “Kenapa baru tahu sekarang?”.

Saking sukanya, HalteMin ingin menyarankan agar jastiper menggunakan Jenius karena mereka bisa menggunakan nama akun media sosialnya sebagai $Cashtag. Misalnya, $jastipjaktim atau $nathmeong. Selain akan memudahkan mereka mempromosikan layanannya, pelanggan yang mau transfer dengan fitur Send It hanya perlu mengingat username media sosial mereka saja.

Satu lagi fitur yang sering HalteMin gunakan adalah e-Wallet Center yang berfungsi untuk melakukan top up berbagai dompet digital yang dimiliki. Yakin deh, banyak teman Jenius yang punya lebih dari satu dompet digital—sama seperti HalteMin. Dengan fitur ini, HalteMin jadi mudah mengatur pengisian kembali dompet digital-dompet digital yang hampir kosong, agar memudahkan transaksi dengan jastiper.

Harus diakui, berbagai fitur Jenius benar-benar memberikan life finance solution, terutama bagi HalTeman dan teman Jenius yang digital savvy.

Baca juga: Fitur-Fitur Jenius: Berawal dari Cerita Menjadi Inovasi

Kita belum tahu sampai kapan pandemi COVID-19 ini berakhir dan kapan kita bisa berkegiatan di luar rumah sebebas dulu. Namun, ini semua tidak perlu jadi hambatan bagi kita untuk tetap mencicipi makanan dan jajanan dekat kantor yang dulu sering kita nikmati. Ada #JastipDHKH yang akan membelikannya agar kita tidak perlu keluar rumah. Dan ada Jenius yang membantu kita melakukan semua transaksinya bebas kontak fisik. Selamat mencoba.


Artikel ini ditulis oleh HalteMin Dari Halte Ke Halte, teman Jenius yang gemar merekomendasikan berbagai jajanan enak melalui media sosial. Cek artikel dari guest writer-guest writer lain pada laman Jenius Blog.
Ilustrasi pada artikel ini merupakan karya Isa Indra Permana, teman Jenius yang merupakan ilustrator dari Yogyakarta.


Bagikan