6 Toxic Money Habit yang Harus Disadari untuk Keuangan Lebih Sehat

writter Fifi Nurfitrianti

Hubungan toksik adalah hubungan yang bersifat merusak dan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Tapi, ternyata hubungan toksik gak cuma bisa dialami sesama manusia lho—sama uang juga bisa! Hubungan toksik dengan uang berawal dari kebiasaan buruk sehari-hari dalam mengelola keuangan atau bisa disebut sebagai toxic money habit.

Kebiasaan kecil yang biasa kamu lakukan ternyata bisa jadi awal mula terbentuknya toxic money habit. Karena terbiasa mengelola keuangan dengan cara yang salah, kamu gak sadar ternyata kebiasaan buruk ini bisa memengaruhi kesehatan finansialmu. Apakah kamu masih memiliki toxic money habit seperti berikut? Kalau iya, ini saatnya kamu mengubah kebiasaanmu untuk keuangan yang lebih sehat.

1. Pembelian impulsif

Siapa yang suka standby di e-commerce favorit tiap tanggal kembar seperti 9.9 dan 10.10? Kalau melihat diskon tuh rasanya kalap deh, pengin beli semua dengan alasan “mumpung diskon” padahal kita juga gak butuh-butuh banget.

Nah, untuk menghindari pembelian yang terlalu impulsif, kamu bisa bikin aturan buat diri sendiri. Contohnya, kamu hanya bisa membeli barang-barang yang ada dalam wishlist—daftar barang yang memang kamu butuhkan atau cita-citakan sejak lama. Atau jika ada barang yang kamu inginkan, tunggu 24 jam sebelum memutuskan untuk membelinya karena siapa tau hanya emosi/nafsu sesaat kamu yang menginginkan barang tersebut.

2. Bergantung pada kartu kredit

Kartu kredit memang memberikan kemudahan bertransaksi tanpa perlu membawa uang tunai. Selain itu, ada banyak promo menarik juga point rewards bagi penggunanya. Namun, teman Jenius harus bijak dan hati-hati dalam menggunakan kartu kredit ya, biar gak jadi beban finansial di kemudian hari!

Prinsip utamanya, jadikan kartu kredit sebagai alat pembayaran—bukan untuk berutang. Kemudian, jangan biasakan membayar minimum payment—jumlah minimal yang wajib dibayarkan—saja. Karena tiap kamu memutuskan untuk bayar minimum payment, kamu berpotensi terkena bunga yang berlipat tiap bulan dan secara gak sadar hal ini akan membuatmu terus-terusan menimbun utang.

Jika kamu masih membayar minimum payment saja, ini saatnya stop pakai kartu kredit. Lebih baik kamu memilih opsi pembayaran tunai atau gunakan m-Card untuk seluruh transaksi. Dengan begini, kamu sudah selangkah lebih dekat menuju money habit yang lebih baik.

3. Membandingkan keuangan sendiri dengan orang lain

Lihat teman punya smartphone baru, rasanya pengin beli juga biar gak ketinggalan tren—padahal gak ada budget-nya. Who can relate?

Membandingkan kondisi keuangan diri sendiri dengan orang lain ternyata bisa berdampak besar pada kebiasaan finansial kita lho! Smartphone baru atau merek mobil sebenarnya gak bisa mengukur tingkat kesuksesan seseorang. Memenuhi gaya hidup mewah sama dengan orang lain, malah bisa jadi bumerang. Bisa-bisa kamu gak punya tabungan atau bahkan rela berutang biar tetap kece.

Selalu ingat, membandingkan-bandingkan gak bakal ada habisnya. Maka, ini saatnya untuk mengubah mindset kamu. Jadikan kondisi orang lain sebagai motivasi, bukan kompetisi. Motivasi inilah yang bisa membantumu bekerja lebih maksimal demi mencapai tujuan yang dicita-citakan.


4. Menabung hanya dari uang sisa

It’s a big no! Jangan pernah menabung hanya dari uang sisa. Setelah menerima gaji atau pemasukan lainnya, segera sisihkan sebagian untuk tabungan dan gunakan sisanya untuk membayar tagihan atau belanja kebutuhanmu.

Saran para perencana keuangan, kamu bisa menyisihkan minimal 10-20% dari total pemasukan untuk ditabung. Tentu saja angka ini bisa lebih besar, tergantung besar-kecilnya kebutuhanmu dan strategi budgeting yang kamu gunakan.

Kamu juga bisa memanfaatkan fitur Dream Saver untuk membantumu rutin menabung setiap bulan. Dengan Dream Saver, kamu bisa mengatur sendiri jumlah setoran autodebit dan periode menabung. Jadi, kamu gak akan lupa buat nabung setiap bulannya deh!

Baca juga: Financial Checkup: Hidup Hemat dan Giat Menabung Sejak Muda

5. Self-reward terus-terusan

Self-reward baik sebagai bentuk penghargaan untuk diri sendiri atas kerja keras yang sudah dilakukan. Misalnya, ketika kamu berhasil menyelesaikan skripsi atau proyek besar, gak ada salahnya menghadiahi diri sendiri makanan favorit atau barang idaman.

Sayangnya, banyak orang yang melakukan self-reward terus-terusan hingga gak jelas juntrungannya. Self-reward cukup penting untuk menjaga kesehatan mental dengan lebih menyayangi diri sendiri, tapi jangan sampai terjebak konsep yang salah ya! Lakukan self-reward secara moderat, biar gak kebablasan jadi self-harm untuk dompetmu.

Di luar proyek-proyek besar, kamu bisa juga kok memanjakan diri tanpa mengeluarkan banyak uang. Contohnya, me time dengan menonton film favorit atau jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran. Jadi, walau self-reward bermakna positif, jangan jadikan kedok untuk bebas menghamburkan uang ya.

6. Gak bikin budgeting

Banyak orang gak bikin budgeting semata-mata karena belum terbiasa. Jadi sejak awal, tanpa dicoba praktikkan, sudah muncul asumsi-asumsi negatif seperti budgeting sangat membatasi hidup.

Nah, jangan sampai salah ya, budgeting justru perlu dibuat setiap bulan agar semua kebutuhan terpenuhi dengan baik sesuai porsinya. Dengan punya money habit ini, harapannya hidup kamu justru lebih relaks karena budget untuk masa kini dan masa depan sudah terencana dengan baik.

Sebagai contoh, kamu bisa menggunakan metode budgeting 50/30/20 ala Elizabeth Warren. Metode ini merekomendasikan kita membagi pengeluaran ke dalam tiga pos berbeda, yakni 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan.

Baca juga: Budgeting Bagi Lima ala Li Ka-Shing

Banyak sekali metode budgeting yang bisa kamu coba dan sesuaikan dengan caramu. Lakukan dengan Jenius untuk memudahkan budgeting bulanan. Lakukan pemisahan budget kebutuhan dan keinginan pakai x-Card, dan mulailah kebiasaan menabung menggunakan Flexi Saver atau Dream Saver. Dengan begini, kamu bisa menghindari segala pengeluaran yang gak penting dan fokus pada tujuan-tujuan finansialmu.

Mungkin kamu merasa bahwa 6 kebiasaan di atas adalah hal sepele yang gak berdampak apa-apa. Nyatanya, kebiasaan itu bisa jadi toxic untuk kondisi keuanganmu. Mulai dari sekarang, yuk sadari apa kebiasaan yang buruk untuk keuanganmu dan perlahan-lahan stop melakukan itu untuk keuangan yang lebih sehat.

Belum punya Jenius untuk membantumu mengatur keuangan yang lebih sehat? Download dan aktivasi Jenius sekarang.


Artikel lainnya