Realisasi Mimpi Ikut World Major Marathon di Berlin

writter Monica Felicia

Semasa sekolah, aku sudah senang sekali dengan kegiatan yang berbau olahraga.

Aku masih ingat banget saat di bangku SMA, setiap semester kami menjalankan ujian sekolah dengan berlari 12 kali putaran (jika dihitung dalam jarak kilometer sekitar 3,6 kilometer). Selama 3 tahun aku memegang rekor pelari perempuan dengan waktu tercepat dalam 1 angkatan.

Seiring berjalannya waktu entah kenapa di tahun 2016 aku memilih untuk memulai kegiatan olahraga lari kembali. Saat itu tujuanku memilih olahraga lari karena menemukan wadah komunitas yang menyediakan kami pelatihan untuk berlatih.

Tahun ke tahun, aku makin menunjukkan keseriusanku dalam dunia lari, dimulai dari mengikuti lomba lari jarak pendek 5 hingga 10 kilometer, lalu naik tingkat lagi dengan jarak yang lebih jauh, yaitu half marathon (21,0975 kilometer).

Selama berlari dari tahun 2016 hingga 2022, jarak maksimal lariku sebatas half marathon. Entah kenapa saat itu aku belum punya nyali secara mental dan fisik untuk mencoba berlari dalam kategori full marathon (42,195 kilometer).

Mengapa? Buatku, lari sama saja seperti mengerjakan tugas yang harus dilakukan dengan giat, teliti, dan penuh niat.

Kalau gak niat, pasti akan dilakukan dengan asal-asalan dan aku gak mau saat berlomba aku hanya sebatas berlari tanpa mendapatkan achievement apa pun.

Tahap 1: Persiapan World Major Marathon Berlin

Setelah 7 tahun menggiati hobi lari, akhirnya pada tahun 2023 aku memutuskan untuk mengikuti lomba full marathon. Hal ini juga sudah aku pikirkan matang-matang dengan berdiskusi dengan pelatih lari.

Saat itu pelatihku menjelaskan bahwa aku sudah dapat untuk mengikuti full marathon melihat kondisi fisikku saat itu. Hanya saja, memang perlu mental yang dilatih agar dapat menyelesaikan maraton dengan baik.

Pada tahun 2023 inilah aku mendapatkan kesempatan mengikuti maraton bergengsi yang sangat diidam-idamkan para pelari, yaitu World Major Marathon (WMM) di Berlin.

Sejak awal aku memang kepingin banget berlari di Berlin karena menurut para pelari rutenya sangat nyaman (flat), udaranya segar dan dingin, serta bebas kendaraan bermotor.

Hal ini memang sangat berbeda dengan perlombaan lari lainnya karena banyak sekali atlet internasional yang berpartisipasi, maka dari itu perlombaan WMM di Berlin ini jadi sangat ketat.




Untuk mendapatkan tiket perlombaan ini sendiri para pelari harus mengikuti sistem undian (ballot).

Setelah mendaftarkan diri melalui sistem ballot tersebut, para pelari harus menunggu e-mail yang akan dikirimkan sekitar satu bulan kemudian, dan apabila kalian menang ballot tersebut, maka kalian harus segera membayar biaya pendaftaran Berlin Marathon lalu bersiap untuk berlatih!

Tahap 2: Tips Biar Fisik Siap untuk Maraton

Saat tau akhirnya berhasil mendapatkan tiket Berlin Marathon, perasaanku excited banget karena pertama kali ikut lomba WMM dan sampai ke Benua Eropa pula! Biar maraton di Berlin berjalan dengan lancar, tentu saja aku perlu mempersiapkan latihan dari jauh-jauh hari.

Aku pun mempersiapkan maraton ini dengan berlatih sekitar 8 bulan. Latihan ini pun banyak macamnya dan sudah dikondisikan oleh pelatih.

Setiap minggu aku akan berlatih seperti easy run, interval, recovery run, tempo run, long run, dan strength training. Selain itu, gak lupa juga untuk menjaga pola tidur, makan, dan recovery seperti sport massage atau cold plunge.

Semua yang kusebutkan di atas tadi sangatlah bermanfaat dan berpengaruh banget latihannya untuk memberikan peningkatan daya tahan tubuh kita. Ingat, lari dengan jarak 42,195 kilometer bukanlah hal mudah, maka harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari dengan matang.

Tahap 3: Persiapan Dana Awal Maraton di Berlin

Selain mempersiapkan latihan, aku pun memerlukan biaya untuk mempersiapkan dana perjalanannya. Bisa kubilang perjalanan Berlin Marathon adalah perjalanan #laribarengjenius karena dalam persiapannya aku ditemani Jenius.

Pada Januari 2023 aku sudah mulai menyiapkan 2 dana dengan menggunakan aplikasi Jenius, yaitu 1 Maxi Saver dan 1 lagi Dream Saver.

Fitur Maxi Saver kugunakan untuk memendam dana yang akan baru kugunakan saat di Berlin nanti karena lumayan banget bisa dapat bunga tambahan yang lumayan tinggi apabila menabung menggunakan fitur ini.

Kemudian yang kedua aku menggunakan fitur Dream Saver yang tiap bulannya akan otomatis menarik dana yang telah aku sisihkan untuk membeli hal-hal yang nantinya diperlukan untuk perjalanan jadi dijamin bisa lebih terkontrol menabungnya.

Berikut rincian dana yang aku siapkan untuk dapat pergi ke Berlin Marathon.

  1. Tiket Pesawat Pulang Pergi Rp13.000.000

  2. Visa Schengen Rp1.982.000

  3. Asuransi Area Schengen (21 Hari) Rp 1.270.000

  4. Penginapan Berlin (5H4M) Rp4.820.000

  5. Makan Rp860.000

  6. Transportasi Rp1.000.000

  7. Biaya gak terduga Rp1.500.000

Sehingga, total biaya yang aku keluarkan selama di Berlin sejumlah Rp24.432.000.

Tahap 4: Pergi ke Eropa Murah, kok!

Banyak banget yang bilang kalau pergi ke Eropa itu mahal, apalagi segala sesuatu yang kita beli dikonversi menjadi nilai euro. Menurutku, segala impian yang ingin dilakukan selalu ada jalan yang bisa mempermudah.

Biaya hidup di Eropa memang mahal dibandingkan dengan Indonesia, tapi aku punya life hack yang bikin perjalananku ini jadi serbaringan karena dicicil perlahan sejak jauh-jauh hari.

Pertama-tama, kalau kamu sudah ada niat ingin pergi lari maraton di Eropa tapi belum menerima pengumuman ballot, alangkah baik jika sudah mulai pesan hotel dengan metode free cancellation. Hal ini biar kamu bisa mendapatkan biaya penginapan yang murah dan gak jauh dari lokasi perlombaan.

Kedua, pengumuman ballot biasanya akan diumumkan akhir tahun (Desember) jadi persiapkan dana tiket pesawat dan mencari-cari acara travel fair yang dapat memberikan banyak diskon, khususnya penerbangan ke Eropa.

Ketiga, pastikan kamu memantau fitur Mata Uang Asing di aplikasi Jenius. Aku sendiri setiap hari selalu cek kurs euro karena gampang untuk melihat kurs hariannya.

Jadi, apabila kurs euro sedang murah biasanya aku akan membeli lalu ditabung selama beberapa bulan. Hitung-hitung jadi lebih murah dan mudah tanpa harus beli di money changer.

Perjalanan di Eropa kebanyakan (nyaris semua!) metode pembayarannya contactless, jadi gak perlu bawa banyak uang tunai banyak-banyak—plus demi keamanan juga!

Nah, jadi siapa bilang pergi ke Eropa itu mahal? Semua bisa terjangkau apabila kamu jauh-jauh hari mempersiapkan semua informasi perjalanannya.

Itu tadi pengalaman lomba pertamaku mengikuti World Major Marathon di Berlin bareng Jenius! Gara-gara mulus perjalanannya, aku jadi punya keinginan mencoba perlombaan WMM di negara lainnya karena seru banget!

Apalagi saat di Berlin Marathon kemarin aku bisa mendapatkan achievement untuk menuntaskan maraton pertamaku dan berhasil finis dengan catatan waktu 3 jam 55 menit 22 detik.




Hal ini juga yang memotivasiku untuk mempertajam lagi waktu finis di maraton negara berikutnya dan pengin banget merasakan vibe yang berbeda dari Berlin kemarin.

Jadi harus mulai rajin-rajin menabung lagi dan banyak mencari tau tentang life hack perjalanan di negara tujuan selanjutnya deh!


Artikel ini ditulis oleh Monica Felicia, teman Jenius yang juga merupakan penggiat olahraga lari. Cek artikel dari guest writer-guest writer lain pada laman Blog Jenius.
Ilustrasi pada artikel ini merupakan karya Zuchal Rosyidin, teman Jenius yang merupakan Ilustrator & Founder Kamaji Studio di Malang.

Artikel lainnya