Bloomberg News melaporkan, kasus perbankan Amerika Serikat (AS) mereda setelah Silicon Valley Bank (SVB) resmi diakuisisi oleh bank swasta, yakni First Citizens Bank. First Citizens setuju untuk membeli semua simpanan nasabah dan kredit yang disalurkan SVB, yang telah diambil alih oleh regulator pekan lalu.
Pada saat yang sama, The Fed juga menyatakan akan mempertimbangkan perluasan fasilitas pinjaman darurat, guna memperkuat neraca perbankan. Pasalnya, data Personal Consumption Expenditure (PCE) di Bloomberg yang menjadi indikasi perhitungan tingkat inflasi mengalami penurunan lebih rendah dari ekspektasi pasar hingga menaikkan spekulasi investor terhadap era pemangkasan suku bunga AS pada akhir tahun 2023.
Data estimasi tingkat inflasi di Eropa turun di bawah perkiraan Bloomberg. Kondisi ini membantu menumbuhkan optimisme terhadap langkah Eropean Central Bank (ECB) yang dinilai berhasil menekan tingkat inflasi dengan tetap pada jalur kenaikan tingkat suku bunga.
Kabar Credit Suise-UBS dan Deutsche Bank mereda setelah ECB menyatakan perbankan zona Eropa saat ini tangguh dan memiliki posisi modal serta likuiditas yang kuat. ECB juga bersedia menyediakan likuiditas tambahan jika diperlukan.
Di sisi lain, harga gas yang turun selama sepekan menjadi dorongan tambahan optimisme pasar. Kabar baik ini membuat pasar saham di Eropa mengiringi penguatan di Amerika.
Menurut data yang dirilis Bloomberg pada akhir pekan, investor di Asia mengantisipasi pelemahan indeks manufaktur Cina. Katalisator tersebut memangkas optimisme sebelumnya mengenai kondisi ekonomi global dan persepsi institusi pada pertumbuhan pemulihan ekonomi Cina yang lebih positif.
Bank sentral Cina secara tak terduga melakukan pemangkasan tingkat persyaratan cadangan perbankan (RRR atau Reserve Requirement Ratio) sebesar 25 bps. Pemangkasan ini bertujuan untuk meningkatkan output ekonomi dan menjaga likuiditas perbankan.
Pada saat yang sama, kondisi yang kondusif di Amerika dan Eropa berhasil mempertahankan optimisme pasar, terlihat dari mayoritas indeks saham utama di Cina yang menguat lebih dari 2 persen.
Kondisi global yang mulai kondusif membuat sentimen di Indonesia juga relatif positif. Menjelang akhir kuartal pertama 2023, katalis diramaikan dengan rilisan kinerja laporan keuangan perusahaan dan aksi korporasi seperti pembagian dividen tunai. Saham sektor energi memimpin penguatan mingguan setelah melaporkan kinerja keuangan yang sangat baik selama 2022.
Bank Indonesia (BI) kembali memproyeksikan inflasi akan turun di bawah 4% pada bulan September 2023. Proyeksi ini muncul efek penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) pada tahun lalu, yang menjadi sentimen positif untuk pasar obligasi dan berhasil membuat persepsi risiko Indonesia menurun.
Di luar itu, selama sepekan, nilai tukar rupiah terapresiasi setelah realisasi kebijakan instrumen untuk devisa hasil ekspor. Permintaan akan dolar Amerika (USD) menurun, ditandai dengan indeks dolar yang lebih rendah.
