Penulis: Ella Hastono
Pasar saham Amerika bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah tipis sepanjang pekan, di tengah pekan perdagangan yang lebih pendek seiring libur Natal.
Volume transaksi cenderung menipis, terutama menjelang akhir pekan, sehingga pergerakan indeks lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan penyesuaian posisi (positioning) menjelang tutup tahun.
Sektor teknologi dan energi menjadi penopang utama indeks, sementara reli akhir tahun atau Santa Claus rally berlangsung terbatas karena investor cenderung berhati-hati di tengah valuasi yang sudah tinggi.
Dari sisi fundamental, perhatian pasar tertuju pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal III yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuat di kisaran 4% lebih secara tahunan (annualized).
Data ini memperkuat keyakinan bahwa ekonomi Amerika Serikat masih solid, tapi sekaligus menahan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed yang terlalu agresif pada 2026.
Kombinasi pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang mulai melandai membuat pasar menilai The Fed akan tetap berhati-hati, sehingga meskipun sentimen risiko relatif terjaga, ruang penguatan ekuitas Amerika Serikat tampak terbatas menjelang pergantian tahun.
Pasar saham Eropa bergerak bervatiatif, mayoritas cenderung melemah selama pekan Natal, seiring minimnya katalis baru dan likuiditas yang sangat tipis akibat libur akhir tahun.
Banyak bursa di kawasan Eropa beroperasi dengan jam perdagangan terbatas, sehingga pergerakan indeks cenderung sempit dan tidak mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan. Bahkan, 23 Desember menjadi hari perdagangan terakhir untuk indeks DAX Jerman.
Secara keseluruhan, para pelaku pasar memilih bersikap defensif, dengan saham utilitas dan sektor non-siklikal relatif lebih stabil dibandingkan sektor berbasis siklus ekonomi.
Di Inggris sentimen pasar juga relatif netral karena tidak terdapat rilis data ekonomi utama maupun keputusan kebijakan moneter penting selama periode ini.
Fokus para pelaku pasar tetap pada prospek pertumbuhan ekonomi 2026 di tengah perlambatan ekonomi Eropa dan penurunan tekanan inflasi.
Meski risiko pengetatan kebijakan semakin kecil, kehati-hatian masih mendominasi karena ketidakpastian pemulihan permintaan dan prospek laba perusahaan, sehingga pasar Eropa menutup pekan dengan pergerakan yang terbatas.
Pasar ekuitas Asia mayoritas menguat signifikan sepanjang perdagangan pekan lalu, dengan Tiongkok menjadi sorotan utama di tengah likuiditas regional yang menurun akibat libur Natal.
Berbeda dengan Hongkong, bursa saham mainland Tiongkok (Shanghai dan Shenzhen) tetap buka pada 25 Desember, sehingga aktivitas pasar Tiongkok relatif lebih aktif dibanding kawasan lain.
Sementara itu, bursa Hongkong (Hang Seng) ditutup pada 25-26 Desember karena libur Natal dan Boxing Day, sehingga likuiditas regional secara keseluruhan tetap terbatas.
Secara keseluruhan, pasar ekuitas menguat pekan lalu seiring dengan membaiknya selera risiko dan harapan penguatan pasar menjelang akhir tahun.
Sentimen positif turut diperkuat oleh ringkasan pertemuan National People’s Congress (NPC) Standing Committee, yang menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, mendukung sektor properti, serta melanjutkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif dengan pendekatan moneter yang tetap berhati-hati.
Meski belum disertai pengumuman stimulus besar, arah kebijakan yang konsisten dinilai cukup untuk menopang sentimen pasar.
Selain itu, Bank Sentral Tiongkok (PBOC) pada 22 Desember pekan lalu mempertahankan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di 3,0% dan LPR 5 tahun di 3,5%, sesuai ekspektasi pasar, yang memperkuat persepsi kebijakan moneter tetap akomodatif.
Keputusan ini dipandang menjaga stabilitas pembiayaan di tengah pemulihan ekonomi yang masih bertahap, meskipun pasar masih menantikan langkah pelonggaran lanjutan yang lebih konkret.
Pasar keuangan Indonesia bergerak cenderung hati-hati sepanjang periode 22-26 Desember 2025, sejalan dengan perdagangan yang sepi akibat libur Natal serta minimnya katalis domestik baru.
Pelemahan yang terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan sikap wait and see para pelaku pasar menjelang tutup tahun.
Aktivitas perdagangan didominasi saham-saham berkapitalisasi besar, dengan aksi window dressing yang selektif namun belum cukup kuat untuk mendorong penguatan indeks secara signifikan.
Dari sisi aliran dana, investor asing secara keseluruhan masih mencatat beli bersih sebesar Rp 4,96 triliun di pasar keseluruhan sepanjang sepekan, meskipun di pasar reguler tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 69,58 miliar.
Hal ini menunjukkan bahwa minat asing masih terjaga, terutama melalui transaksi di luar pasar reguler seperti pasar negosiasi, sementara perdagangan harian di pasar reguler cenderung lebih berhati-hati.
Di pasar valuta asing, rupiah bergerak terbatas seiring dengan pasar yang masih mencermati lanjutan pelonggaran kebijakan moneter domestik, tapi tekanan relatif tertahan oleh pelemahan dolar Amerika secara global.
Secara keseluruhan, pasar Indonesia menutup pekan Natal dengan sentimen netral menjelang dinamika pasar dan kebijakan global pada awal 2026.
