Pasar Amerika Serikat menjalani minggu perdagangan penuh gejolak, yang mana arah indeks didorong oleh tarik-ulur yang kuat antara dua faktor utama: optimisme dari musim laporan keuangan dan kekhawatiran yang timbul tenggelam seputar hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Pekan dibuka dengan euforia Senin, saat sektor teknologi dan keuangan memimpin reli di tengah meredanya kekhawatiran kredit perbankan. Momentum positif ini berlanjut Selasa hingga mendorong Dow Jones mencetak rekor all-time high baru, ditopang kinerja solid Coca-Cola dan 3M.
Meski demikian, sentimen pasar berbalik arah secara drastis pada Rabu, ketika investor melakukan aksi jual besar-besaran. Pemicunya adalah konfirmasi rencana Amerika Serikat membatasi ekspor perangkat lunak ke Tiongkok, yang diperburuk oleh rilis kinerja mengecewakan dari Texas Instruments dan jatuhnya saham Netflix.
Tekanan jual tersebut tidak berlangsung lama, dan pasar berhasil melakukan pembalikan arah yang impresif. Pada Kamis, pasar rebound kuat setelah Gedung Putih mengonfirmasi pertemuan antara Presiden Trump dan Xi Jinping akan tetap berjalan, yang seketika meredakan ketegangan dagang. Puncak dari reli terjadi pada Jumat, saat ketiga indeks utama Dow, S&P 500, dan Nasdaq berhasil ditutup bersamaan pada rekor tertinggi baru.
Penutupan spektakuler ini ditopang oleh dua pilar: rilis data inflasi (CPI) yang lebih jinak dari perkiraan, yang membuka jalan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, serta musim laporan laba kuartal III yang berjalan sangat sukses dengan 87% emiten melampaui ekspektasi.
Pasar ekuitas Eropa menjalani pekan yang cukup fluktuatif, tapi berhasil ditutup dengan rekor tertinggi baru untuk indeks STOXX 600. Awal pekan dibuka dengan sangat optimis, didorong meredanya kekhawatiran atas stabilitas perbankan Amerika Serikat dan komentar Presiden Trump yang menenangkan ketegangan dagang dengan Tiongkok.
Sentimen positif ini berlanjut hingga Selasa, dengan saham-saham Prancis memimpin penguatan. Namun, pasar berbalik arah pada hari Rabu setelah laporan kinerja yang mengecewakan dari raksasa barang mewah L’Oreal dan Hermes, ditambah tekanan dari sektor teknologi, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kekuatan pemulihan ekonomi di Tiongkok.
Momentum pasar secara dramatis berbalik kembali pada Kamis, mengantarkan STOXX 600 ke level tertinggi sepanjang masa, yang didorong hampir seluruhnya oleh lonjakan besar di sektor energi. Pemicunya adalah sanksi baru yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan minyak besar Rusia, yang membuat harga minyak mentah melesat. Sektor pertahanan juga menjadi bintang sepanjang pekan di tengah meningkatnya ketegangan, dengan Saab melonjak pada akhir pekan setelah menaikkan proyeksi penjualan.
Pekan ini ditutup dengan nada positif pada Jumat, didukung data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah daripada perkiraan dan laporan kinerja yang kuat dari beberapa emiten seperti NatWest, berhasil menutupi kerugian besar di saham teknologi seperti STMicroelectronics yang ambles akibat proyeksi lemah.
Pasar Asia minggu kemarin bergerak sangat fluktuatif, dengan sentimen investor yang terus berubah-ubah akibat dinamika perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok. Pasar Tiongkok (Shanghai, Shenzhen) dan Hong Kong mengawali minggu (Senin) dengan optimisme tinggi, didorong harapan bahwa Presiden Trump akan melunakkan tarif.
Meski demikian, suasana berbalik suram di pertengahan minggu (Rabu) setelah Trump mengisyaratkan pertemuannya dengan Presiden Xi mungkin batal. Untungnya, pasar kembali rebound pada Kamis dan Jumat. Pemicunya adalah kabar Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng, akan mengadakan pembicaraan pendahuluan di Malaysia, yang dilihat sebagai langkah positif menjelang pertemuan puncak kedua pemimpin di Korea Selatan.
Sementara itu, bintang utamanya adalah pasar Jepang. Nikkei 225 melonjak tajam pada awal pekan, menembus level 49.000, menyambut terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri wanita pertama dalam sejarah negara itu. Meskipun sempat terjadi aksi ambil untung (profit-taking) pada Kamis, reli kembali berlanjut.
Investor mendapat angin segar baru dari laporan (Rabu) bahwa Takaichi sedang mempersiapkan paket stimulus ekonomi dalam jumlah besar. “Takaichi Trade” ini sukses mendorong indeks Topix ke rekor tertinggi baru dan membantu Nikkei menutup minggu dengan kenaikan kuat di level 49.299 pada Jumat.
Pasar saham Indonesia menjalani pekan penuh gejolak, tapi ditutup dengan performa sangat impresif, layaknya sebuah roller coaster. IHSG mengawali pekan dengan euforia luar biasa, menembus level psikologis 8.000 pada Senin dan terus tancap gas hingga ke level 8.220 pada Selasa.
Pesta pora ini dimotori dua kekuatan utama: rilis kinerja solid sembilan bulan dari BBCA dan sentimen spinoff bisnis fiber TLKM yang membuat sahamnya meroket belasan persen. Meskipun sempat terjadi koreksi tajam pada Rabu akibat aksi wait and see investor, euforia TLKM kembali membawa IHSG terbang pada Kamis, sebelum akhirnya ditutup konsolidasi nyaris flat di level 8.271 pada penutupan Jumat.
Sementara bursa saham berapi-api, cerita yang sangat kontras datang dari pasar mata uang dan obligasi. Rupiah justru tampil tangguh dan relatif stabil, berhasil ditutup menguat tipis di level 16.595 per dolar Amerika. Bintang utama di balik ketahanan rupiah adalah keputusan Bank Indonesia pada Rabu yang di luar dugaan kembali menahan suku bunga acuan di 4,75%.
Keputusan dovish tersebut sukses menjadi jangkar penopang rupiah, meski di sisi lain sempat menekan pasar saham. Di sisi lain, pasar obligasi pemerintah (SUN) cenderung tenang; yield SBN bertenor sepuluh tahun bergerak sangat datar sepanjang pekan, hanya naik tipis dan parkir di level 5,994%, menandakan investor yang masih sangat berhati-hati di pasar surat utang.
