Tas Branded: Barang Impian atau Produk Investasi?

Cerita Jenius
writter Ucita Pohan

Masih teringat jelas bagaimana rasanya hari itu, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat pertama kalinya tas Louis Vuitton yang saya beli dengan uang hasil kerja sendiri, tiba di tangan. Impian saya menjadi nyata. Bahkan mengingat momennya saja berhasil membuat saya tersenyum.

Saya, Fashion, dan Tas Branded Impian

Masa kecil dan remaja saya disibukkan dengan membaca majalah fashion, mengagumi keindahannya, serta memaknai kisah-kisah di balik merek dan para desainer kenamaan.

Tas-tas branded ibu saya sering menjadi barang yang saya pakai (dengan atau tanpa sepengetahuan beliau) untuk dipadukan dengan outfit saya saat keluar rumah. Sambil membayangkan suatu hari nanti saya akan bisa membelinya dengan penghasilan saya sendiri.

Setiap orang memiliki wishlist benda impian yang berbeda. Buat saya yang sejak kecil sudah tertarik dengan dunia fashion yang lekat dengan designer-brands, tentu tas impian ada dalam wishlist.

Sebagai first jobber, salah satu motivasi saya rajin bekerja saat itu bisa dibilang karena ingin men-checklist satu per satu isi wishlist. Perhitungan finansial pun saya lakukan dengan teliti untuk bisa mendapatkan tas impian. Soalnya, preferensi pribadi saya adalah menabung sampai uangnya terkumpul, dibanding membelinya menggunakan sistem cicilan.

Baca juga: Kuis: Apa Karaktermu dalam Menabung?

Saat itu, editor in chief di tempat saya bekerja, akan terbang ke Paris untuk meliput Paris Fashion Week. Dengan semangat, saya “membekali”nya uang 650 euro (setara hampir dua bulan gaji saya dulu) dan memintanya membelikan tas impian saya. Demi tas impian dengan harga lebih rendah dibandingkan di Jakarta.

It was, Louis Vuitton Monogram Speedy 30, just like what Audrey Hepburn and Jackie O had.

Tas Branded: Barang Impian atau Produk Investasi?

Mungkin terdengar berlebihan, tapi kecintaan saya terhadap sebuah branded item biasanya memang didasari alasan sentimentil. Misalnya, karena cerita di balik tas tersebut atau respek terhadap desainernya.

Tas LV pertama saya dibeli langsung di negara asalnya dan diukir dengan inisial nama saya pada handle-nya. Terasa sangat istimewa.

Baca juga: Mengelola Keuangan Lebih Baik dengan Memahami Psychology of Money

Tas Branded Pertama, Kedua, dan Seterusnya

Sejak momen yang terasa magical itu, optimisme saya untuk mewujudkan apa yang diimpikan naik berkali-kali lipat. Saya jadi merasa bahwa saya bisa.

Pengalaman manis inilah yang membuka perjalanan saya mengoleksi tas-tas dan branded items berikutnya. Dan… keseruan hunting pun dimulai. Sejak saat itu, tidak hanya rajin mengamati tas branded dari majalah, saya semakin sering mampir ke toko, berkenalan dengan komunitas preloved seller, dan terus memperkaya pengetahuan dengan banyak menonton bag review di YouTube.

Sambil mengamati perkembangan tren dan kenaikan harga yang terjadi, perlahan saya men-checklist daftar tas-tas impian. Ada tas yang dibeli di official store di Jakarta dan di negara asalnya—sambil liburan dan “berbonus” tax refund. Sementara untuk rare items yang sulit dicari, ada yang saya beli melalui jastip dari luar negeri.

Beberapa tas juga saya beli dari trusted seller, baik dalam keadaan baru maupun secondhand. Semua tergantung dari ketersediaan tas yang saya inginkan dan budget. Semua pilihan diperhitungkan karena ada beberapa tas yang bagi saya lebih “worth it” untuk dibeli dalam kondisi preloved.

Budget memang menjadi penentu utama kapan tas impian dapat dimiliki. Tetapi sebetulnya, banyak cara untuk mempercepatnya. Salah satunya dengan fokus mengumpulkannya, misalnya dengan membuat pos tersendiri yang dikhususkan untuk tas impian.

Sahabat saya, seorang freelancer yang juga pencinta tas branded pernah berbagi cerita. Dia menggunakan fitur Dream Saver pada akun Jenius miliknya untuk tas impian yang ingin sekali dia beli langsung di kota asalnya, Paris.

Setiap ada pendapatan lebih, dia akan langsung menambahkan uang ke pos tersebut. Saya melihat ini sebagai ide brilian untuk dilakukan. Karena melihat impian kita tertulis dan berprogres akan membuat semangat kita mewujudkannya juga terus hidup.

Baca juga: Lakukan Side Hustles Agar Impian Cepat Tercapai

Tas Branded=Produk Investasi?

Salah satu hal menarik dari mengoleksi tas branded adalah usia pakai tas yang bisa sangat panjang. Karena kualitasnya yang bagus, tas designer-brands bahkan bisa diwariskan ke generasi berikutnya sebagai barang “berharga” dan ber”harga”.

Ya, tas-tas branded tertentu masih memiliki harga jual yang tinggi, bahkan belasan tahun kemudian. Banyak orang juga membicarakan bahwa tas bermerek bisa menjadi “investasi”.

Bukan sekadar investasi pada gaya berpakaian lho ya. Karena realitasnya, jual-beli tas bermerek bisa menghasilkan keuntungan layaknya investasi yang nilainya mengalami kenaikan di kemudian hari.

Kita ambil contoh kejadian yang akhir-akhir ini semakin menjadi buah bibir, yaitu kenaikan harga tas Chanel Classic Flap Bag. Tipe tas yang sudah ada sejak Februari 1955 ini seperti memiliki “inflasi” sendiri yang unik.

Tas Branded: Barang Impian atau Produk Investasi?

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi pada tas Chanel. Pasalnya, pada awal pandemi tahun 2020 lalu, produksi barang dari beberapa luxury fashion house di Eropa sempat terhenti. Momen ini menyebabkan sebagian tas—terutama model klasik—menjadi lebih sulit didapatkan.

Demand yang tetap tinggi pun mengakibatkan harga jual semakin tinggi. Akibatnya, harga jual tas yang sama dengan kondisi preloved pun ikut naik. Inilah salah satu momen yang membuat banyak pengoleksi tas branded mendapatkan keuntungan besar dari tas lama mereka, yang tak tanggung-tanggung bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari harga saat beli dahulu.

Baca juga: Punya Mimpi Segudang? Wujudkan Sekarang!

Saya punya pengalaman pribadi dengan tas Christian Dior tipe Lady Dior. Pada pertengahan tahun 2019, saya membeli preloved Lady Dior dengan harga Rp20 juta. Saat pandemi terjadi dan secara umum harga meroket, tas yang sama dengan kondisi yang sama laku terjual dengan harga rata-rata minimal mencapai Rp30 juta.

Kalau mau, bisa saja saya mendapatkan keuntungan besar dalam kurun waktu beberapa bulan. Sekarang sudah terdengar seperti investasi betulan? Well, investasi atau bukan, yang jelas keuntungannya nyata.

Momentum dari sebuah situasi khusus dan tren mode memegang peranan besar pada investasi tas branded ini. Perlu diingat juga, tidak semua tas branded masuk dalam kategori “good investment”. Tiap-tiap designer-brand memiliki tas andalan yang menjadi koleksi klasik paling diminati dan senantiasa menjadi all-time favorite.

Tas-tas inilah yang patut menjadi pertimbangan jika ingin “ogah rugi” dalam memilih branded bags. Berikut “bocoran” alias cheat list-nya:

  1. Chanel: Classic Flap bag
  2. Hermes: Birkin bag
  3. Louis Vuitton: Neverfull bag
  4. Dior: Lady Dior bag
  5. Celine: Luggage
  6. YSL: Kate bag

Baca juga: Kesalahan-Kesalahan dalam Berinvestasi

Saat artikel ini ditulis, saya baru saja mencentang wishlist nomor satu saya, yaitu vintage Chanel Double Flap Bag. Bagi saya, memiliki tas impian dan membawanya ke mana pun saya pergi menjadi pengingat manis impian yang telah terwujud.

Untuk teman Jenius lain yang baru akan memulai mengoleksi tas impian, banyak-banyaklah mengumpulkan referensi dan memperkaya pengetahuan untuk membuka kesempatan kita menggapainya.

Mulailah dengan punya impian. Dengan begitu, kita jadi memiliki keinginan yang jelas. Miliki impian setinggi-tingginya. Jangan batasi impian, karena hidup ini penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas.

Percaya atau tidak, itu adalah awal dari perjalanan seru mewujudkannya.


Artikel ini ditulis oleh Ucita Pohan, teman Jenius yang merupakan seorang penyiar, penulis, dan fashion enthusiast yang saat ini tinggal di Jakarta. Cek artikel dari guest writer-guest writer lain pada laman Blog Jenius.
Ilustrasi pada artikel ini merupakan karya Lisa Saputra, teman Jenius yang merupakan freelance illustrator di Jakarta.

Artikel lainnya