Siapa yang pernah suntuk di kantor? Entah karena teman kantor yang toxic, bos yang NPD, atau kerjaan yang gak ada habisnya; sampai akhirnya kamu kepikiran, “Apa gue resign aja ya, terus bikin bisnis sendiri?”
Kamu bukan satu-satunya yang berpikir demikian kok. Namun, in this economy… mengundurkan diri dari pekerjaan untuk membangun bisnis harus datang dari kesiapan finansial serta perhitungan risiko yang terukur, bukan keputusan yang diambil secara gegabah.
Jadi, kalau memang punya cita-cita untuk buat bisnis sendiri, sebelum mengirimkan e-mail pengunduran diri ke HR, pastikan kamu sudah siap dengan perhitungan yang realistis, ya.
Membangun bisnis sambil tetap berstatus sebagai karyawan memang bikin kamu perlu bekerja lebih keras. Saat orang lain bisa beristirahat sepulang kantor, kamu justru meluangkan waktu untuk mengelola bisnismu.
Namun di sisi lain, gaji bulanan sebagai karyawan memberi ruang aman untuk pengembangan bisnis. Kamu bisa fokus uji coba produk atau layanan sampai akhirnya bisnis siap lepas landas dan bisa menggantikan gaji bulananmu.
Keuntungan lainnya, kolega kerja yang kamu kenal di kantor bisa dimanfaatkan sebagai pasar produk bisnismu. Selain itu, sebagai karyawan yang terbiasa disiplin waktu, hal ini jadi modal berharga kalau kelak kamu akan membangun bisnis kamu sendiri.
Sebelum memulai bisnis, banyak karyawan fokus pada rencana bisnis yang akan dibuat, tapi luput mengecek kondisi keuangan pribadi.
Kesalahan paling umum yang dilakukan ialah menggunakan dana darurat sebagai modal usaha, mengambil utang konsumtif demi “mengembangkan” bisnis, serta mencampur uang gaji dengan uang bisnis.
Ketika bisnis belum stabil, kekeliruan ini bisa berdampak langsung terhadap kualitas hidupmu, apalagi kalau kamu tulang punggung keluarga. Di bawah ini adalah alokasi keuangan yang sehat bagi karyawan sebelum membangun bisnis!
Kebutuhan hidup: Rp5 juta
Tabungan dan investasi: Rp2 juta
Ruang fleksibel (hiburan, belajar, dan bisnis): Rp3 juta
Dari anggaran di atas, sebagai karyawan seenggaknya kamu punya dana darurat sebesar 6 bulan biaya hidup. Jadi, jika pengeluaranmu Rp5 juta per bulan, maka dana darurat minimal yang perlu kamu punya ialah 30 juta.
Dana ini bukan untuk modal usaha, melainkan untuk melindungi kamu dari risiko kehilangan pekerjaan, sakit, atau kondisi darurat lainnya. Tanpa dana darurat, bisnis akan terasa sangat menekan secara mental karena “harus berhasil”.
Lantas, bagaimana jika kamu masih punya utang? Apakah bisa memulai bisnis?
Jawabannya: bisa. Selama cicilan terkendali dan utangnya produktif, seperti cicilan KPR. Namun, utang seperti paylater, kartu kredit konsumtif, dan pinjaman berbunga tinggi sebaiknya dikendalikan dahulu.
Intinta, total seluruh cicilan utangmu gak boleh melebihi 30% dari pendapatan bulananmu.
Biar keuangan pribadi dan bisnis gak tercampur, segera buat rekening bisnis terpisah dari rekening pribadi saat kamu memulai bisnis. Tujuannya agar kamu bisa bisa melihat performa bisnis secara objektif.
Kalau bisnis “untung”, tapi rekening pribadi yang terus menutupinya, itu tandanya bisnismu belum sehat.
Rekening bisnis ini bisa dipakai untukmu menyisihkan modal yang bisa dimulai dengan Rp3 sampai dengan Rp6 juta.
Kamu gak perlu memaksakan diri memenuhi modal awal ini sekaligus, jadi bisa kamu cicil secara bertahap dari gajimu setelah dana daruratmu terpenuhi.
Di bawah ini adalah langkah praktis yang bisa kamu lakukan:
Amankan biaya hidup bulanan untuk 6 bulan ke depan untuk yang masih single atau 12 bulan jika kamu sudah berkeluarga.
Pisahkan dana darurat (termasuk cicilan KPR) untuk 6-12 bulan ke depan.
Tentukan batas maksimal kerugian bisnis, ketika bisnis merugi dan menyentuh angka ini, jangan menambah modal sebelum evaluasi menyeluruh.
Amannya, anggap memulai bisnis sebagai penghasilan tambahan, bukan sebagai pengganti gaji. Fokus pada validasi pasar, pembeli yang kemudian menjadi pelanggan dan membeli berulang, serta buat sistem sederhana.
Bisnis yang sehat tumbuh karena permintaan pasar, bukan karena dorongan pribadi untuk menggantikan gaji.
Karyawan bisa mundur dari pekerjaannya dan fokus ke bisnis, ketika kamu mulai banyak menolak permintaan pembeli dan kehilangan pendapatan bisnis, serta ketika bisnis gak bisa berjalan tanpa kehadiranmu.
Sebelum itu terjadi, mempertahankan pekerjaan tetap adalah langkah strategis, bukan tanda kegagalan.
Kini kita masuk ke evaluasi bisnis, tanda bisnis yang sehat ialah memiliki arus kas yang sehat dengan indikator:
pemasukan lebih besar daripada biaya operasional,
ada pelanggan berulang,
gak perlu suntikan dana pribadi rutin, dan
masih ada sisa kas meski kecil.
Cash flow sehat berarti ada profit dan bisnis bisa bertahan, bukan harus besar. Oleh karena itu memisahkan uang pribadi dan uang bisnis sejak awal menjadi langkah penting memulai bisnis untuk pemula.
Membangun bisnis dari nol adalah perjalanan panjang. Dengan strategi finansial yang tepat, karyawan bisa membangun bisnis secara bertahap tanpa mengorbankan stabilitas hidup dan masa depan keuangannya.
Kunci keberhasilan transisi ini terletak pada manajemen keuangan bisnis dan pribadi yang disiplin. Sangat penting bagi karyawan untuk memiliki dana darurat bisnis sebelum mengalokasikan modal usaha dari gaji.
Cara membangun bisnis sampingan karyawan adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan konsistensi dan perhitungan risiko yang akurat.
Jadi, pastikan untuk selalu menggunakan rekening bisnis terpisah agar performa usaha dapat dipantau secara objektif, sehingga sebagai perintis bisnis, kamu bisa memastikan arus kas bisnis sehat tanpa harus terus-menerus menggunakan dana pribadi.
Artikel ini ditulis oleh Ully Safitri, teman Jenius yang berprofesi sebagai Certified Financial Planner di OneShildt Financial Independence. Cek artikel dari para guest writer lain pada laman Blog Jenius.
Artikel ini memuat informasi umum sebagai referensi dan edukasi. Dapatkan informasi terbaru seputar produk dan layanan Jenius di laman produk dan layanan terkait.