Siapa pun pada akhirnya akan memasuki fase kehidupan bernama pensiun—apa pun profesi dan pekerjaannya.
Bagi karyawan, pensiun diartikan sebagai berakhirnya hubungan kepegawaian setelah sekian waktu bekerja dan memasuki usia tertentu; biasanya pada usia 56 tahun ke atas.
Bagi pengusaha, pensiun diartikan sebagai menyerahkan pengelolaan usahanya kepada penerus usaha.
Sementara itu, bagi para profesional seperti arsitek, konsultan, dan dokter pensiun dapat dikatakan beristirahat karena mungkin secara fisik dan kesehatan sudah gak optimal untuk bekerja.
Bisa dibilang pensiun adalah keniscayaan yang akhirnya harus dihadapi, suka atau gak suka, siap atau gak siap.
Nah, yang banyak gak disadari adalah kebutuhan dana untuk meng-cover pengeluaran gak semata-mata hilang karena seseorang memasuki usia pensiun. Selama orang itu masih bernapas, maka pengeluaran akan masih berjalan sesuai kebutuhan dan standar hidupnya.
Sampai kapan? Tentunya sampai tugasnya di kehidupan ini selesai, dan nilai ini bisa sangat besar.
Jika dibuat simulasi, seseorang dengan biaya hidup Rp5 juta per bulan (atau Rp60 juta per tahun) dan kini berusia 35 tahun diperkirakan membutuhkan biaya pensiun sekitar Rp2,4 miliar.
Jumlah ini bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup selama sembilan belas tahun masa pensiun, yaitu dari usia 56-75 tahun, apabila asumsi rata-rata usia harapan hidup adalah 75 tahun.
Kalau mau coba menghitung kebutuhan uang pensiun, kamu bisa langsung simulasikan di kalkulator dana hari tua ini.
Angka tersebut akan makin besar nilainya kalau kamu berencana pensiun lebih awal—yang biasa kita sebut pensiun dini; atau punya gaya hidup yang meningkat tiap tahun dengan gak terkendali serta minim pengetahuan mengenai investasi untuk mengejar inflasi.
Secara tradisional, pensiun adalah situasi ketika penghasilan berkurang karena sudah gak bisa bekerja secara fisik. Namun, karena keberagaman sumber penghasilan saat ini, hal tersebut gak sepenuhnya benar.
Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang yang sudah memasuki pensiun untuk menghasilkan uang. Sehingga, “pensiun sebenarnya” yang diisi dengan kehidupan pasif baru bakal terjadi kalau fisik sudah gak memungkinkan atau terkena risiko kesehatan.
Di luar itu, masih ada banyak pilihan mengisi usia pensiun, seperti:
pensiun sambil terus bekerja,
pensiun lalu berbisnis,
pensiun dari pekerjaan atau profesi lama dan mencoba profesi baru (career change), atau
pensiun dan lebih mengutamakan aktivitas yang bersifat sosial atau spiritual.
Yang jelas, persiapan untuk pensiun adalah persiapan jangka panjang karena gak main-main nilai uang yang harus disiapkan.
Berikut ini adalah 5 modal pendukungnya. Yuk, kita bahas satu per satu!
Pendapatan yang memadai ini untuk memenuhi kebutuhan sekarang, baik bagi diri sendiri maupun keluarga ya, Teman Jenius. Hal ini jadi modal paling dasar dan penting.
Modal kedua adalah mampu mengelola gaya hidup dari konsumsi berlebihan dan belanja dengan penuh kesadaran.
Apa maksud konsumsi berlebihan? Saat kamu membelanjakan uang hasil kerja keras dengan gegabah karena mengikuti hawa nafsu, sehingga akhirnya gak punya uang yang bisa disisihkan untuk masa depan.
Banyak yang punya penghasilan di atas rata-rata masyarakat Indonesia, tapi gagal mempersiapkan pensiun mandiri finansial dan bebas dari tekanan ekonomi.
Penyebab utamanya? Gagal mengelola gaya hidup.
Coba gunakan aturan dasar pembagian pengeluaran 50-30-20 dari pendapatan untuk mulai mengelola pengeluaran agar sesuai dengan kemampuan.
Maksimal 50% untuk kebutuhan hidup.
Maksimal 30% untuk cicilan/keinginan.
Minimal 20% untuk tabungan dan investasi.
Makin tinggi tingkat pengeluaran, makin sulit membiayai pensiun. Sedangkan makin sederhana pola hidup, makin mudah untuk mencapai kemandirian finansial.
Jadikan uang bekerja buatmu dengan belajar menjadi investor, biar masa depan lebih mudah diraih.
Mulailah dari investasi yang terasa mudah dan terjangkau. Jangan tergiur pada investasi yang menjanjikan keuntungan tinggi karena biasanya di balik keuntungan tinggi mengandung risiko yang gak biasa.
Saat uang yang dikumpulkan makin besar, maka akan timbul keinginan untuk memuaskan diri sendiri dengan berbagai pengeluaran di luar rencana yang sudah disisihkan untuk pensiun tadi.
Salah satunya tergiur menempatkan uang pada instrumen investasi yang tampak menjanjikan dari keuntungan. Hati-hati, sering kali sesuatu yang terlihat too good to be true, it probably is.
Kuatkan fondasi keuangan dengan menstabilkan pengeluaran. Memang sih, terasa sulit untuk rutin menyisihkan keuangan. Tapi kalau gak kamu jaga, bisa saja dana darurat habis atau investasi terpakai.
Konteksnya bukan pengeluaran kayak belanja bulanan atau rekreasi ya, tapi kemampuan keuangan untuk mengantisipasi kenaikan pengeluaran akibat risiko gak terduga seperti sakit, kehilangan pekerjaan, krisis finansial, bantuan keluarga, dan sebagainya.
Jadi, pastikan keuangan kamu dibekali dengan sekoci penyelamat dalam bentuk dana darurat yang memadai, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, bahkan asuransi aset.
Dengan membeli asuransi, kamu melakukan transfer risiko keuangan pada pihak lain dengan membayar premi sehingga saat risiko terjadi, kamu gak perlu menanggung beban finansial yang besar dan menguras tabungan, aset, dan masa depan.
Yakinlah, kamu selalu punya kemampuan menyisihkan—meskipun sedikit. Jika kondisi keuangan masih terbatas dan kebutuhan masih banyak, tetap usahakan sisihkan semampunya.
Kalau gak memungkinkan 10% dari pendapatan, coba dengan angka yang lebih kecil, misalnya 5%. Contohnya, kalau pendapatan rata-rata tiap bulan Rp5 juta dan menyisihkan Rp500 ribu per bulan terasa berat, mulai dari angka yang kamu sanggup seperti Rp300 ribu per bulan.
Kalau angkanya masih terasa menakutkan, coba sisihkan secara harian. Kamu bisa menabung harian sebesar Rp10 ribu selama 30 hari dalam rekening terpisah. Kalau sudah dilakukan, bisa juga kan menabung Rp300 ribu per bulan?
Setelah menabung rutin sudah menjadi kebiasaan, barulah tingkatkan kontribusi bulanan. Otot keuangan sudah makin kuat dan mental disiplin atur uang juga sudah makin terbangun.
Buat target kontribusi makin mendekati kebutuhan rencana tabungan pensiun setiap tahunnya. Mengapa begitu? Karena poin utama dari dana pensiun adalah memulai sedini mungkin sejak muda.
Perencanaan pensiun yang matang selalu mencakup berbagai aspek dalam kehidupan; bukan hanya aspek finansial, tapi juga mental.
Bisa saja orang siap pensiun di atas kertas atau lembar worksheet, tapi belum tentu siap dalam kehidupan nyata karena banyak hal yang berubah.
Dulu si A bisa menabung tiap bulan, tapi saat memasuki tahun pensiun melihat rekening yang gak mengalami pertumbuhan, malah justru menciut karena terpakai.
Si A pun cemas secara berlebihan yang berujung pada takut salah pakai uang, takut habis, sehingga mental gak pernah benar-benar merasa aman.
Inilah pentingnya memiliki rencana pengelolaan cash flow masa pensiun.
Berapa yang bisa diambil tiap bulan?
Berapa rencana pengeluaran?
Berapa rencana penempatan dana pensiun?
Berapa lama dana ini bisa bertahan?
Dalam perspektif lainnya, pensiun yang ideal bukanlah sekadar, “Saya berhenti bekerja karena tabungan sudah cukup!” Melainkan, “Saya punya pilihan bagaimana cara saya menjalani kehidupan di fase ini.”
Dana pensiun cukup, utang sudah lunas, cash flow aman adalah aspek finansial. Namun, cara kamu menghadapi proses perubahan identitas hidup dan berlanjut ke fase kehidupan berikutnya juga sama pentingnya.
Bagaimana cara kamu mengisi waktu ketika masa pensiun dengan ritme hidup baru dan struktur baru. Tanpa aspek ini, hari-hari pensiun akan terasa kosong meskipun uang tersedia.
Banyak orang mengalami post-power syndrome karena pensiun sering dipandang sebagai fase “gak dibutuhkan lagi”, bukan sebagai babak baru yang indah. Pola pikir seperti ini akhirnya menimbulkan tekanan psikologis meskipun kondisi finansial sudah aman.
Karena itu, gak hanya finansial tapi persiapan mental juga perlu dibangun. Caranya dengan meredefinisi makna produktif dan membangun “peran baru” sebelum pensiun. Misalnya melalui aktivitas yang lebih bermakna seperti mentoring atau mengajar, serta melatih kemampuan menikmati kehidupan.
Melalui hal-hal kecil yang bermakna, kamu bisa mencapai pensiun dengan penuh rasa nyaman, aman, dan sejahtera.
Yuk, mulai merencanakan pensiun kamu dari sekarang!
Artikel ini ditulis oleh Budi Raharjo, teman Jenius yang berprofesi sebagai Certified Financial Planner, juga Founder & Konsultan Perencanaan Keuangan OneShildt Financial Independence. Cek artikel dari para guest writer lain pada laman Blog Jenius.
Artikel ini memuat informasi umum sebagai referensi dan edukasi. Dapatkan informasi terbaru seputar produk dan layanan Jenius di laman produk dan layanan terkait.