Bandara di awal tahun selalu punya cerita.
Ada yang berjalan mantap dengan itinerary rapi, ada yang scrolling rekomendasi di media sosial sebelum boarding, dan ada pula yang punya wishlist negara tujuan sejak tiga bulan lalu sambil menunggu promo terbaik.
Traveling bukan lagi sekadar “pergi liburan”, melainkan cara tiap generasi merayakan waktu, mengelola prioritas, bahkan mengekspresikan diri.
Melalui Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi yang melibatkan 300 responden melalui online survey dan wawancara mendalam yang dilaksanakan pada November 2025 sampai Januari 2026, Jenius melihat bagaimana Gen X, Gen Y, dan Gen Z merancang perjalanan traveling mereka.
Dari tujuan, persiapan finansial, hingga saat berada di situasi darurat, semuanya memperlihatkan karakter yang berbeda. Yuk, disimak!
Secara umum, setiap generasi rata-rata traveling 1-2 kali sepanjang tahun 2025. Frekuensinya mirip, tapi cara dan motivasinya gak selalu sama.
Gen X cenderung memilih wisata ramah keluarga dan tempat hits. Mereka mengutamakan efisiensi waktu dan kenyamanan, sehingga membuat mereka perlu menyusun itinerary seefisien mungkin dengan mengunjungi tempat berdekatan.
Sementara itu, Gen Y mencari aktivitas unik dan menarik. Mereka menentukan itinerary sesuai prioritas destinasi yang hendak dikunjungi, tapi di sisi lain fleksibel kalau menemukan tempat menarik di tengah perjalanan.
Lain halnya dengan Gen Z yang banyak dipengaruhi rekomendasi teman dan media sosial. Mereka cukup fleksibel dengan menyesuaikan itinerary dengan kota/negara tujuan, sehingga rencana yang sudah dibuat bisa berubah kalau menemukan spot yang lebih seru.
Dari sini terlihat bahwa perbedaan generasi bukan soal seberapa sering bepergian, melainkan bagaimana mereka mengelola ekspektasi, fleksibilitas, dan makna perjalanan.
Dilihat dari hasil survei Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi, tipe perjalanan yang dipilih tiap generasi punya perbedaan tujuan.
Gen X sepakat traveling adalah ruang berkumpul yang hangat dan sering kali sudah direncanakan jauh-jauh hari.
Sementara itu, Gen Y memadukan antara makna dan pengalaman. Bukan hanya bareng keluarga, tapi juga mengejar minat personal mereka.
Nah, yang paling berbeda adalah Gen Z. Buat mereka, traveling adalah mencicipi rasa baru, mengunjungi tempat yang relate dengan minat atau idola mereka, serta berburu pengalaman yang bisa dibagikan.
Secara keseluruhan, terlihat bahwa makin muda generasinya, makin kuat unsur individualitas dalam memilih tipe perjalanan.
Gen X menjadikan traveling sebagai ruang kolektif, Gen Y mulai menyeimbangkan kolektif dan personal, sementara Gen Z menjadikannya sebagai perpanjangan minat dan ekspresi diri.
Jenius Study menunjukkan dalam memilih destinasi traveling, semua generasi tertarik pada tempat yang belum pernah dikunjungi dan fasilitas publik yang nyaman. Yang membedakan adalah detailnya.
Gen X: eksplorasi penting, tapi tetap rasional dan terukur.
Gen Y: lebih sensitif terhadap promo dan value. Strategis, tapi tetap ingin pengalaman baru.
Gen Z: dorongan eksplorasi paling kuat, sehingga punya keinginan menemukan hidden gems, bahkan yang eco-friendly.
Pilihan destinasi juga memperlihatkan perbedaan perspektif lintas generasi, lho. Hasil Gen X dan Gen Y masih menempatkan dalam negeri sebagai pilihan utama.
Sementara Gen Z menunjukkan ketertarikan lebih besar untuk menjelajah ke luar negeri. Bagi mereka, traveling lintas negara bukan lagi aspirasi jangka panjang tapi sudah terasa lebih dekat dan mungkin.
Selain itu, ada 5 destinasi lokal favorit lintas generasi, yaitu:
Magelang, Jawa Tengah
Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur
Yogyakarta, DI Yogyakarta
Bali, Bali
Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Destinasi-destinasi ini menunjukkan bahwa traveling tetap jadi sweet spot karena cukup familiar untuk terasa aman, cukup beragam untuk terasa baru, dan cukup accessible untuk tetap rasional secara biaya.
Untuk destinasi luar negeri, berikut 5 yang paling favorit:
Jepang
Tiongkok
Tailan
Singapura
Eropa
Di antara destinasi luar negeri favorit, Jepang menempati posisi paling kuat secara aspirasi. Kombinasi budaya yang khas, kota modern yang efisien, transportasi publik yang presisi, kuliner autentik, hingga pengalaman musiman seperti sakura menjadikannya paket lengkap.
Buat traveler Indonesia, Jepang terasa “jauh tapi terjangkau”. Secara pengalaman sangat berbeda, tapi secara akses dan perencanaan makin realistis.
Melalui program seperti Jenius Jelajah Jepang, perjalanan ke Jepang terasa makin dekat dengan dukungan kemudahan transaksi dan perencanaan finansial. Karena saat destinasi impian sudah di depan mata, yang dibutuhkan bukan sekadar wishlist, melainkan ekosistem yang siap mendukung dari tahap menabung hingga kembali pulang membawa cerita.
Menariknya, hasil Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi menunjukkan bahwa tiap generasi sama-sama mengandalkan platform digital untuk menyusun itinerary, yang mana Google Maps dan media sosial jadi dua sumber utama.
Google Maps yang jadi fondasi utama semua generasi menunjukkan bahwa aspek praktis seperti jarak, rute, dan efisiensi tetap penting.
Namun perbedaan terlihat pada media sosial. Peran media sosial pada Gen Z (35%) hampir menyamai Google Maps sebagai referensi utama. Artinya, inspirasi visual dan rekomendasi peer-to-peer punya pengaruh besar dalam membentuk rencana mereka.
Sementara itu, Gen X masih rasional: cek lokasi, atur rute, bandingkan opsi. Bahkan 18% Gen X mengaku gak bikin itinerary; yang mengindikasikan preferensi pada rencana sederhana yang sudah “kebayang” sejak awal.
Nah, Gen Y berada di tengah: tetap butuh gambaran besar, tapi terbuka pada insight tambahan dari media sosial, bahkan AI (ChatGPT, Gemini, dll) (13%).
Bisa dibilang travel planning sudah digital-first untuk semua generasi, tapi motivasi tiap generasi berbeda: Gen X untuk efisiensi, Gen Y untuk optimasi, Gen Z untuk inspirasi.
Lebih dari 50% responden Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi menyiapkan budget untuk traveling 3 bulan sebelum keberangkatan.
Hal ini menunjukkan pergeseran pola pikir bahwa traveling bukan impulsif, melainkan bagian dari perencanaan finansial.
Gen X melihat budget sebagai sesuatu yang “harus siap”
Gen Y lebih fleksibel: budget disiapkan, destinasi bisa menyesuaikan.
Gen Z cenderung mengamankan dana dulu sebanyak mungkin biar lebih leluasa saat traveling.
Yang menarik dari hasil Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi ini adalah meskipun Gen Z terlihat paling spontan, dari sisi finansial mereka sadar pentingnya persiapan. Ada kombinasi antara spontan secara pengalaman, tapi tetap mindful secara finansial.
Dalam Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi gaya belanja tiap generasi makin kelihatan ketika sampai di destinasi tujuan.
Gen X dominan sebagai Smart Planner. Mereka membandingkan harga, mencari promo, dan menjaga pengeluaran tetap terkendali. Bagi mereka, pengalaman penting, tapi tetap dalam batas rasional.
Gen Y menunjukkan keseimbangan. Selain Smart Planner, banyak yang jadi Comfort Seeker. Artinya, mereka rela membayar lebih untuk kenyamanan: hotel strategis dengan kasur yang nyaman, transportasi lebih praktis.
Sementara itu, Gen Z punya komposisi unik. Meski tetap ada Smart Planner, proporsi Experience Spender cukup tinggi. Mereka rela mengalokasikan dana lebih untuk pengalaman unik seperti workshop lokal, konser, kuliner khas, atau aktivitas yang “once in a lifetime”.
Bisa disimpulkan bahwa dalam hasil Jenius Study ini, makin muda generasi, makin besar willingness to pay untuk pengalaman, bukan hanya efisiensi.
Lima fitur Jenius yang paling relevan untuk kebutuhan traveling antara lain adalah:
Dari sisi perilaku, kebutuhan lintas generasi gak hanya soal transaksi, tapi juga fleksibilitas dan reward. Jenius sebagai aplikasi perbankan revolusioner menjadi enabler penting dalam keputusan traveling.
Namun, selain 5 fitur di atas, kamu juga bisa memanfaatkan Flexi Cash sebagai dana fleksibel untuk kebutuhan traveling, serta Jenius QR dengan QRIS Cross Border agar transaksi makin nyaman.
Saat menghadapi kondisi gak terduga ketika traveling, hasil dari Jenius Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi menunjukkan tiap generasi menggunakan kartu kredit sebagai solusi utama.
Bisa dibilang, Gen X dan Gen Y masih mengandalkan kartu kredit sebagai solusi utama saat darurat karena fleksibel, cepat, dan praktis untuk situasi seperti extend hotel, perubahan tiket, atau kondisi darurat lainnya.
Sementara itu, Gen Z lebih terdiversifikasi. Selain kartu kredit, mereka mengandalkan dana darurat pribadi (31%), atau bahkan bantuan teman (8%). Hal ini menunjukkan pola kolektif dan jaringan sosial yang lebih kuat.
Menariknya, semua generasi punya kesadaran akan kemungkinan situasi gak terduga. Itu berarti traveling bukan hanya soal rencana indah, tapi juga kesiapan menghadapi perubahan.
Di balik semangat eksplorasi, ada satu hal yang cukup menggelitik. Sebanyak 58% Gen X, Gen Y, dan Gen Z gak beli asuransi perjalanan saat traveling.
Angka ini menarik karena di sisi lain kita melihat generasi makin terencana dalam budgeting, makin digital dalam menyusun itinerary, dan makin sadar pentingnya dana darurat. Namun, proteksi perjalanan masih belum jadi prioritas utama.
Padahal risiko traveling bukan hanya soal itinerary berubah. Ironisnya, generasi yang paling spontan bukan berarti paling abai, dan generasi yang paling terencana pun belum tentu paling terlindungi.
Gen X mungkin merasa pengalaman dan perencanaan matang sudah cukup jadi “tameng”, Gen Y mungkin fokus pada efisiensi biaya dan fleksibilitas, dan Gen Z mungkin lebih percaya pada dana darurat pribadi.
Namun data ini menunjukkan satu gap besar: kesiapan menghadapi risiko belum sepenuhnya diimbangi dengan proteksi formal.
Traveling hari ini bukan cuma tentang mencari pengalaman baru, tapi juga tentang mengelola risiko dengan bijak. Karena perjalanan yang nyaman bukan hanya soal destinasi, tapi juga rasa aman dari keberangkatan hingga pulang.
Menariknya, cerita traveling gak berhenti saat pesawat mendarat atau kereta berhenti di stasiun tujuan. Justru setelah pulang, karakter finansial tiap generasi makin terlihat jelas.
Hasil dari Study 2026: Perilaku Traveling Lintas Generasi menunjukkan bahwa bisa dibilang Gen X termasuk yang reflektif dan tertib. Bagi mereka, traveling adalah siklus yang dikelola. Setelah menikmati, mereka kembali ke mode evaluasi.
Ada disiplin finansial yang kuat; mulai dari reviu pengeluaran, memastikan semuanya terkendali, lalu mulai merencanakan perjalanan selanjutnya dengan lebih matang.
Sementara itu, terdapat keseimbangan antara aspirasi dan tanggung jawab dalam Gen Y. Mereka tetap ingin traveling, tapi sadar ada kewajiban finansial yang harus dibereskan. Traveling bukan momen lepas kendali, melainkan bagian dari perencanaan jangka menengah.
Sementara itu, Gen Z terlihat paling cepat “move on”. Bukan dalam arti melupakan perjalanan, tapi langsung memikirkan traveling berikutnya yang mana masih ada excitement yang berkelanjutan. Bagi mereka, traveling adalah rangkaian pengalaman, bukan event tunggal.
Dari awal perencanaan, pemilihan destinasi, pengelolaan budget, hingga fase pasca traveling, terlihat satu pola besar: tiap generasi punya gaya berbeda, tapi semuanya makin sadar bahwa traveling adalah keputusan finansial, bukan sekadar keputusan emosional.
Gen X mencari keamanan dan kontrol.
Gen Y mengejar keseimbangan antara value dan pengalaman.
Gen Z mengejar eksplorasi dan ekspresi diri, dengan kesadaran finansial yang terus tumbuh.
Traveling bukan lagi sekadar “pergi”, melainkan cerminan cara generasi memaknai waktu, uang, dan pengalaman.
Dan mungkin, di tengah boarding call berikutnya, yang membedakan bukan hanya tujuan mereka; tapi bagaimana mereka merencanakan, menjalani, dan menutup setiap perjalanan.
Kamu sendiri, termasuk tipe traveler kayak gimana nih?
Artikel ini memuat informasi umum sebagai referensi dan edukasi. Dapatkan informasi terbaru seputar produk dan layanan Jenius di laman produk dan layanan terkait.