Gabi, 28 tahun, tinggal di kamar kos kecil di Jakarta Barat. Ia bekerja di perusahaan logistik dengan gaji Rp15 juta per bulan.
Dari luar, hidup Gabi terlihat seru dan normal untuk anak kota besar: ngopi kekinian, beli skin care, nonton konser musik, dan sesekali rekreasi pada akhir pekan. Namun ada satu hal yang selalu mengganggu: setiap habis gajian, uangnya terasa menguap begitu saja.
Suatu sore di kafe, Gabi menatap isi rekeningnya dengan napas berat. Gajian masih seminggu lagi, tapi sisa saldo hanya Rp300 ribu.
“Kok gini lagi, sih?” batinnya.
Perasaan bulan ini Gabi gak terlalu banyak belanja. Ia merasa jarang makan di luar dan jajan berlebihan.
Meski demikian, pola yang sama selalu berulang: awal bulan terasa lega, pertengahan bulan mulai mengencangkan ikat pinggang, dan seminggu menjelang gajian selalu gelisah.
Di titik ini, Gabi mulai sadar: masalahnya bukan di gaji. Gajinya dua digit, tiga kali lipat UMR Jakarta. Jelas-jelas bukan pendapatan yang kecil, kan?
Masalahnya ada pada caranya mengatur keuangan. Ia belum punya sistem yang membuat keuangannya lebih sustainable dan mempraktikkan gaya hidup minimalis yang sehat, bukan sekadar ikut tren.
Malam itu, sepulang kerja, Gabi memutuskan untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia mencatat seluruh pengeluaran rutinnya
Kosan: Rp2.500.000
Makan: Rp3.500.000
Transportasi: Rp800.000
Internet dan listrik: Rp300.000
Laundry: Rp300.000
Skin care dan personal care: Rp750.000
Nongkrong dan jajan: Rp1.500.000
Top up e-wallet: Rp600.000
Lain-lain: Rp1.000.000
Total: Rp11,25 juta.
Secara logika, harusnya masih ada sisa sekitar Rp3,75 juta. Faktanya, yang tersisa di rekening Gabi hanya Rp300 ribu.
Disinilah Gabi mulai melihat pola pengeluarannya yang sangat konsumtif. Pembelian dilakukan tanpa pertimbangan matang, seolah keberadaan diskon sudah cukup menjadi alasan Gabi. Kegunaan jangka panjangnya jarang dipikirkan, barang itu akhirnya hanya tersimpan tanpa pernah benar-benar dipakai.
Karena hal ini terus-terusan terjadi, Gabi merasakan bahaya over-consumption bagi keuangan: menghamburkan uang untuk pengeluaran yang tidak perlu. Di akhir bulan, Gabi mengalami efek konsumsi berlebihan terhadap finansial yang sangat besar karena ia sering tergiur harga promo, mendorongnya untuk belanja impulsif yang menguras dompet.
Bagi pekerja muda, mengatur keuangan untuk pemula menjadi langkah membuat keputusan belanja yang bijak: berani melihat angka, mengakui pola, dan menyadari bahwa perilaku konsumsi yang sehat dimulai dari menyaring pengeluaran mana yang jadi prioritas dan berpengaruh dalam jangka panjang.
Suatu hari, Gabi menonton salah satu episode podcast Money Language yang bertemakan sustainability. Dari situ ia mendapatkan insight baru:
Seluruh uangnya selama ini terpusat di satu rekening.
Dia gak pernah memisahkan kebutuhan dan keinginan.
Dia belum punya dana darurat.
Dia belum punya tujuan keuangan jangka panjang.
Dia hanya investasi kalau lagi ada “uang sisa”.
Podcast itu membahas tentang cara menerapkan mindful spending dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar hemat, tapi juga sadar saat mengeluarkan uang.
Mindful spending membantu kita membuat keputusan belanja yang bijak: bertanya dulu, “Apakah ini benar-benar aku butuhkan? Apakah pembelian ini mendukung hidup yang aku mau, atau hanya memuaskan keinginan sesaat?”
Gabi juga mulai memahami manfaat gaya hidup minimalis. Minimalis dalam mengatur keuangan bukan berarti hidup superpelit dan gak boleh menikmati hidup.
Justru sebaliknya: fokus pada hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, seperti rutin memperhatikan stock barang-barang sendiri untuk menghindari over-consumption. Jika sudah bisa mengendalikan pengeluaran harian, maka kondisi keuangan akan stabil dan membuat perilaku konsumsi yang lebih cerdas dalam jangka panjang
Di titik ini, Gabi memutuskan: “Besok aku harus punya rencana keuangan yang lebih sustainable dan bisa aku jalankan terus, bukan cuma semangat di awal.
Keesokan harinya, Gabi membuka aplikasi bank digital favoritnya, lalu mulai menyusun sistem. Dia ingin menggabungkan gaya hidup minimalis, cara bijak berkonsumsi, dan strategi mindful spending untuk pemula dalam kesehariannya.
Inilah langkah-langkah yang ia lakukan:
1. Tabungan untuk Pisahkan Dana Darurat
Gabi membuka tabungan khusus dana darurat yang fleksibel diambil dan mengatur auto-debit Rp1 juta setiap bulan, dengan target awal 30 juta. Inilah langkah awal mengatur keuangan yang krusial: sebelum ke mana-mana, amankan dulu pondasinya
2. Proteksi Kesehatan
Dia membuka asuransi kesehatan swasta dengan premi Rp500 ribu per bulan karena kantornya hanya memberikan BPJS Kesehatan. Baginya, ini bagian dari pengelolaan risiko, supaya satu masalah kesehatan serius tidak mengganggu seluruh perencanaan keuangan.
3. Tabungan Impian
Gabi membuat rekening bunga tinggi terpisah untuk beberapa tujuan: liburan ke Lombok, beli laptop baru, ambil sertifikasi, serta DP rumah dalam 5 tahun. Dengan memisahkan kantong, ia melatih perilaku konsumsi yang lebih cerdas: gak semua uang bisa diambil sewaktu-waktu.
4. Tabungan Payroll Untuk Kebutuhan Rutin
Rekening utama kini khusus untuk biaya kos, makan, transportasi, dan tagihan bulanan. Di sinilah cara mengatur pengeluaran harian benar-benar dipraktikkan: Gabi belajar bahwa uang makan dan transportasi gak boleh tercampur dengan uang liburan atau uang belanja impulsif.
5. Budget Jajan yang Jelas
Top up e-wallet dibatasi Rp1 juta per bulan. Inilah salah satu tips belanja anti-impulsif yang sederhana tapi efektif. Kalau limit Rp1 juta itu habis, artinya jajan bulan itu selesai. Gak boleh “nambah sedikit lagi” dari kantong lain
6. Rutin Investasi (Metode DCA)
Gabi merasa belum terlalu paham investasi yang rumit, jadi dia memilih strategi yang sederhana dan konsisten: yakni metode DCA (dollar cost averaging) dengan rutin investasi Rp2 juta per bulan:
Rp500.000 tabungan emas
Rp500.000 obligasi pendapatan tetap
Rp1.000.000 reksa dana saham blue chip
Hal ini selaras dengan prinsip mengatur keuangan untuk pemula: mulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara rutin dan terstruktur.
Selesai menata semuanya, Gabi tersenyum lega. Untuk pertama kalinya dia merasa setiap rupiah punya tujuan dan kantong masing-masing.
Di sinilah dia merasakan sendiri manfaat gaya hidup minimalis: lebih sedikit kebocoran, lebih banyak ketenangan.
Dari proses ini, Gabi menemukan formula sederhana yang mudah dia ingat:
50% untuk kebutuhan (needs)
30% untuk keinginan (wants)
20% untuk pertumbuhan (tabungan, asuransi, investasi)
Dengan formula ini, Gabi tetap bisa ngafe dan belanja, tapi kini semuanya terencana. Ia mulai membangun kebiasaan konsumsi yang sehat: sebelum membeli sesuatu, ia bertanya, “Ini masuk kebutuhan, keinginan, atau pertumbuhan?”
Inilah bentuk mindful spending dalam kehidupan sehari-hari. Bukan melarang diri untuk menikmati hidup, tapi membuat keputusan belanja yang bijak.
Saat melihat diskon, dia gak langsung checkout. Dia berhenti sejenak, menerapkan strategi mindful spending untuk pemula yang dia pelajari:
tunggu 24 jam sebelum beli barang non-esensial,
membandingkan dengan tujuan jangka menengah dan panjangnya, juga
bertanya pada diri sendiri, “Kalau uang ini masuk ke tabungan atau investasi, dampaknya apa untuk aku 3-5 tahun ke depan?
Pelan-pelan Gabi mulai merasakan bedanya. Dengan menerapkan perilaku konsumsi yang lebih cerdas, pengeluaran pun lebih terkendali karena sekarang Gabi gak mudah tergoda flash sale.
Dia menemukan tips hemat tanpa mengorbankan kenyamanan: tetap boleh traktir diri sesekali, tapi ada batas yang jelas. Over-consumption gak lagi dibiarkan merusak arus kas.
Tiga bulan berlalu. Gabi merasakan perubahan nyata:
Dia gak lagi panik seminggu sebelum gajian.
Saldo dana daruratnya perlahan naik, membuatnya merasa lebih aman.
Anggaran jajan yang hanya Rp1 juta per bulan membuatnya lebih selektif, bukan asal checkout dulu, mikir belakangan.
Tabungan untuk traveling, gadget, dan DP rumah masa depan mulai terlihat progresnya.
Bahaya over-consumption bagi keuangan kini lebih jelas di matanya. Awalnya Gabi tidak menghiraukan efek konsumsi berlebihan terhadap finansial yang terasa abstrak, sekarang dia bisa melihat langsung: begitu mengurangi kebiasaan “jajan tanpa mikir”, sisa uang yang bisa ditabung dan diinvestasikan meningkat.
Cara menghindari over-consumption ternyata gak serumit yang Gabi bayangkan:
buat batasan anggaran yang tegas,
pisahkan rekening sesuai fungsi,
latih diri berhenti sejenak sebelum belanja,
biasakan bertanya apakah dirinya benar-benar ingin membeli suatu barang.
Dengan tiga langkah sederhana ini, Gabi mempraktikkan cara menerapkan mindful spending dan cara bijak berkonsumsi sehari-hari. Dia masih bisa tetap menikmati ngopi, konser, dan skin care, tetapi semua dalam porsi yang sehat untuk dompetnya.
Enam bulan kemudian, harga-harga di Jakarta naik: sewa kos, transportasi, dan makan di luar ikut terdampak inflasi. Namun kali ini Gabi gak panik. Dia membuka kembali struktur anggarannya dan mengotak-atik komposisi:
kebutuhan naik dari Rp7,5 juta menjadi Rp8 juta,
keinginan dia turunkan dari Rp4,5 juta menjadi Rp4 juta, dan
porsi pertumbuhan tetap 3 juta.
Gabi berprinsip, “Kalau aku mengorbankan dana pertumbuhan demi menambah uang jajan, masa depanku yang akan kena. Itu gak sustainable.”
Di sini terlihat bahwa tips hemat tanpa mengorbankan kenyamanan bisa diterapkan dengan realistis. Gabi gak memaksakan diri hidup superketat, tapi saat biaya hidup naik, yang dia kurangi adalah konsumsi yang gak terlalu penting, bukan tabungan dan investasi.
Pada ulang tahunnya yang ke-29, Gabi melakukan reviu sederhana atas perjalanan keuangannya selama setahun.
Dana darurat sudah mencapai Rp12 juta rupiah.
Investasi terkumpul sekitar Rp26 juta
Asuransi kesehatan aktif dan rutin dibayar.
Arus kas bulanan positif, gak lagi defisit pada akhir bulan.
Tabungan untuk impian jangka menengah dan panjang meningkat stabil.
Dia sudah berhasil membeli laptop baru dan membayar DP sertifikasi untuk meningkatkan kompetensinya.
Gabi menyadari, kebiasaan konsumsi yang sehat gak membuat hidupnya membosankan. Justru sebaliknya, kebebasan dari drama tanggal tua membuatnya merasa lebih merdeka
Dia bisa menikmati hidup dengan tenang karena tau bahwa di belakangnya ada sistem yang menjaga.
Dia tersenyum dan berkata dalam hati, “Aku belum kaya, tapi keuanganku stabil dan rasanya damai.”
Kamu mungkin punya kisah yang mirip dengan Gabi: merantau di kota besar, jadi tulang punggung keluarga, atau baru mulai merapikan keuangan. Dari perjalanan Gabi, kita belajar bahwa:
sustainable personal finance bukan soal gaji besar, tapi adanya sistem;
Minimalis mengatur keuangan bukan berarti anti jajan, tapi tau mana yang benar-benar penting;
mindful spending dan perilaku konsumsi yang lebih cerdas akan membantu kamu keluar dari jebakan over-consumption.
Mengatur keuangan untuk pemula cukup dimulai dari tiga hal: bedakan kebutuhan-keinginan-pertumbuhan, pisahkan rekening, dan buat batasan belanja yang jelas.
Pada akhirnya, cara mengatur pengeluaran harian, strategi belanja antiimpulsif, dan strategi mindful spending untuk pemula bukan hanya teori. Semua itu bisa menjadi bagian dari rutinitasmu, sama seperti menyeduh kopi di pagi hari.
Yang terpenting, kita tetap bisa menikmati hidup selama keuangan terencana. Bukan hidup untuk mengejar gajian, tapi menjadikan uang sebagai alat untuk membangun hidup yang lebih tenang, damai, dan tahan lama.
Artikel ini ditulis oleh Ully Safitri, teman Jenius yang berprofesi sebagai Certified Financial Planner di OneShildt Financial Independence. Cek artikel dari para guest writer lain pada laman Blog Jenius.