Mengelola Keuangan Lebih Baik dengan Memahami Psychology of Money

writter Fakhrisina Amalia Rovieq

Teman Jenius, pernah gak sih kamu melihat Moneytory dan kaget karena banyak pengeluaran yang sebenarnya gak terlalu penting?

Atau mungkin kamu pernah berpikir, “Kenapa ya, orang yang penghasilannya sama denganku bisa punya lebih banyak dana di Flexi Saver bahkan bisa punya beberapa Maxi Saver, sementara aku gak?”

Atau jangan-jangan, selama ini kamu merasa manajemen keuanganmu gak bagus tapi belum tau harus memperbaiki dan mengubahnya dari mana?

Nah, ternyata, cara kita memandang dan mengelola keuangan dipengaruhi juga oleh faktor psikologis lho. Soalnya, faktor psikologis setiap orang berbeda-beda. Gak heran kalau cara setiap orang memandang dan mengelola uang juga berbeda, meskipun mereka mengetahui teori financial planning yang sama.

Cara manusia berperilaku terhadap uang ini dikenal sebagai psychology of money.

Apa Itu Psychology of Money?

Istilah psychology of money mulai dikenal melalui buku berjudul sama yang ditulis oleh Morgan Housel. Buku The Psychology of Money menjelaskan tentang bagaimana kita berperilaku terhadap uang.

Memahami psychology of money akan mempermudah setiap orang dalam mengelola pikiran, emosi, dan perilaku—terutama saat harus berurusan dengan uang. Karena sebanyak apa pun uang yang bisa kita hasilkan dan kumpulkan, semuanya akan sia-sia ketika dihadapkan pada manajemen keuangan yang buruk atau perilaku menghabiskan uang yang gak terkontrol.

Kesuksesan kita dalam mengatur keuangan gak hanya bergantung sama pengetahuan, kecerdasan, dan kemampuan berhitung lho. Tetapi juga bergantung pada bagaimana perilaku kita dalam mengelola uang—misal saat belanja, saat menggunakan Flexi Cash, saat membuat Dream Saver, dan sebagainya.

Baca juga: Pondasi Keuangan dari Ruang-Ruang Masa Kecil

Setiap Orang Berbeda, Gak Ada yang Benar-Benar Sama

Dalam setiap hal yang berhubungan dengan psikologi manusia, gak ada orang yang memiliki perilaku seratus persen sama dengan orang lain, termasuk soal psychology of money.

Gak ada faktor psikologi spesifik dalam perilaku manusia terhadap uang, yang bisa berlaku untuk semua orang. Tetapi, kalau kita mengingat bahwa perilaku manusia selalu dipengaruhi oleh faktor internal (seperti demografi, kepribadian, motivasi, pengalaman, atau nilai yang dianut) dan faktor eksternal (seperti pola asuh, status sosial ekonomi, budaya, atau lingkungan), maka perilaku kita terhadap uang juga tentu dapat dipengaruhi faktor-faktor tersebut.

Baca juga: Mengatur Uang: Refleksi Diri dan Perjalanan Pribadi

Misalnya, perilaku yang dipengaruhi oleh faktor internal. Secara demografi, perempuan cenderung memiliki list belanjaan bulanan lebih banyak daripada laki-laki, karena kebutuhan pribadi yang lebih banyak.

Orang dengan kepribadian ekstrover akan berbeda cara menghabiskan uangnya dengan yang punya kepribadian introver. Orang dengan motivasi punya tabungan yang banyak akan mengalihkan dananya ke Flexi Saver, sementara orang yang motivasinya punya aset akan membagi sebagian dananya ke Maxi Saver.

Contoh lainnya adalah perilaku yang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Seseorang yang sejak kecil dididik untuk berhemat, cenderung punya banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk membelanjakan uang ketimbang yang sejak kecil terbiasa langsung dibelikan sesuatu.

Psychology of Money

Jangan lupa, keadaan sosial ekonomi seseorang juga berperan penting. Pengeluaran satu juta mungkin terasa ringan bagi yang penghasilan per bulannya dua digit atau lebih, dan sebaliknya, akan terasa berat bagi yang penghasilannya hanya satu digit.

Apakah teman Jenius pernah melihat suatu barang yang pada waktu tertentu sangat hype, jadi tren, dan semua orang ingin memilikinya? Ini juga memengaruhi psychology of money kita lho.

Disadari atau gak, kita cenderung mudah terbujuk dengan hal-hal yang tampak “istimewa”. Seperti sesuatu yang sedang tren, diskon besar-besaran, barang yang katanya limited, atau promo yang menggoda seperti gratis ongkir.

Kebahagiaan dan Ketamakan

Uang mungkin gak bisa membeli kebahagiaan, tapi paling gak uang bisa membeli sesuatu yang dapat membuat kita bahagia. Teman Jenius pernah mendengar pepatah ini, kan?

Setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda dalam memaknai kebahagiaan yang diberikan oleh uang. Ada yang merasa bahagia saat punya dana darurat dan tabungan yang cukup.

Ada yang bahagia saat bisa membeli apa pun yang diinginkan, tanpa harus membandingkan harga dengan toko sebelah. Ada juga yang bahagia saat bisa memfasilitasi keluarga dengan kenyamanan dan keamanan finansial.

Gak ada yang salah dalam menghubungkan uang dengan kebahagiaan. Karena faktanya, orang yang memiliki uang memang mampu membuat hidupnya menjadi lebih bahagia. Paling gak, hidup menjadi lebih punya pilihan saat kita punya uang.

Namun, menjadikan uang sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan juga membuat kita secara psikologis mengidamkan uang secara berlebihan. Keinginan untuk memiliki dan menumpuk uang berpotensi menjadikan kita manusia yang tamak.

Gak hanya berpotensi menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, kita juga cenderung melupakan hal-hal lain yang gak kalah penting dalam hidup, seperti pasangan, teman-teman, keluarga, bahkan diri sendiri.

Sehingga, penting untuk kita memahami apa yang penting dan menjadi prioritas, dan kenapa kita menganggapnya demikian.

Baca juga: Kuis: Apa Karaktermu dalam Menabung?

Mengelola Keuangan, Belajar untuk Berkata Cukup

Jadi gimana caranya agar bisa mengelola keuangan dengan baik?

Psychology of Money

Pertama, kenali dan pahami dulu kebutuhan dan prioritasmu masing-masing. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan ini sebagai pemantik:

  • Apa saja yang menjadi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier?
  • Apa yang menjadi kebutuhan mendesak dan penting?
  • Apakah semua kebutuhan sudah terakomodasi dari pemasukan reguler?
  • Perlukah memisahkan dana kebutuhan sehari-hari di x-Card yang berbeda atau semuanya cukup jadi satu di m-Card?

Kedua, kenali dan pahami kebutuhan memiliki tabungan dan aset. Pertanyaan yang bisa membantumu:

  • Apakah satu pos tabungan cukup satu untuk semua kebutuhan?
  • Perlukah memisahkan tabungan darurat dan tabungan jangka panjang?
  • Apakah sudah saatnya memiliki aset?
  • Apakah sudah perlu berinvestasi?
  • Apakah Flexi Saver perlu dipisah sesuai tujuan menabung?

Ketiga, belajar berkata cukup. Teman Jenius pasti sadar, mengumpulkan uang lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Karena secara psikologis, saat kita punya uang, kita cenderung punya keinginan untuk menghasilkan lebih banyak.

Baca juga: 6 Toxic Money Habit yang Harus Disadari untuk Keuangan Lebih Sehat

Contohnya, kita jadi tergoda untuk menggunakan uang yang ada untuk berinvestasi lebih banyak dengan harapan mendapatkan untung lebih banyak. Godaan ini cenderung membuat kita berinvestasi secara asal dan tanpa pertimbangan yang matang, sehingga memunculkan potensi rugi yang lebih besar juga.

Contoh lainnya, kita jadi terus-menerus bekerja tanpa memperhatikan diri sendiri sehingga jatuh sakit dan malah mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk kesehatan.

Intinya, berkata cukup pada diri sendiri membantu kita untuk mengerem keinginan memiliki uang secara berlebihan dan membantu kita menetapkan prioritas serta pertimbangan yang lebih matang dan berjangka panjang.

Nah, kira-kira psychology of money teman Jenius seperti apa nih?


Artikel ini ditulis oleh Fakhrisina Amalia Rovieq, teman Jenius yang merupakan seorang psikolog klinis dan penulis. Cek artikel dari guest writer-guest writer lain pada laman Jenius Blog.
Ilustrasi pada artikel ini merupakan karya Erin, teman Jenius yang merupakan freelance illustrator di Yogyakarta.

Artikel lainnya