5 Kepingan Cerita Sumba yang Harus Kamu Tau


Selain keindahan alam yang mengundang decak kagum, Dian Sastrowardoyo juga jatuh sayang pada keramahan orang-orang Sumba. Gak hanya itu, rasa syukur, pekerja keras, dan jiwa pantang menyerah yang ada di diri masing-masing orang akan menginspirasi siapa pun yang berkunjung ke tempat ini dan berinteraksi dengan mereka.

Semua itu terbentuk sejak di usia dini hingga mereka gak muda lagi. Semua itu yang membuat mereka mampu menghadapi kesulitan yang sedang dialami saat ini, yaitu akses untuk mendapatkan air bersih. Ini yang terlihat dari warga Desa Lai Lanjang, Sumba Timur.

Kesulitan tersebut harus mereka alami setiap hari dan ironisnya membuat ini seakan-akan menjadi hal yang biasa buat mereka. Beberapa kepingan cerita berikut menjabarkan detail yang harus mereka lakukan setiap hari dan setelah membacanya, kamu akan ikut merasa bahwa ini gak boleh menjadi ‘hal yang biasa’ untuk mereka. Mereka membutuhkan perubahan, mereka membutuhkan kita.

Satu sumur
Di Desa Lai Lanjang, satu sumur harus dipakai untuk memenuhi kebutuhan ratusan warga yang tinggal di desa tersebut. Setiap jam 4 pagi, anak-anak sudah terbangun dan mengantre untuk menimba air bergiliran dengan orang-orang lain.

20 liter
Karena volume air yang terbatas, setiap keluarga di Desa Lai Lanjang hanya diperbolehkan mengambil kira-kira 20 liter setiap kali menimba air sumur. 20 liter ini dipakai untuk segala keperluan, mulai dari mandi, memasak, hingga air minum ternak.

Lima kali sehari
Pagi-pagi sekali anak-anak akan mengantre untuk mengambil air, setelah mereka berangkat sekolah, giliran mama-mama Sumba yang mengantre untuk keperluan memasak atau ternak. Sambil menunggu air sumur terisi kembali, baru mereka akan menimba lagi untuk keperluan lainnya. Karena itu, umumnya setiap keluarga di Desa Lai Lanjang menimba air sumur hingga lima kali dalam sehari.

Dua kilometer
Apabila sumur dalam keadaan kering, anak-anak di Desa Lai Lanjang harus mengambil di sumber mata air lain. Mereka harus mengambil air bersih dari sungai yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki sejauh 2 km. Anak-anak yang membawa jeriken air di tangan dan berjalan kaki tanpa memakai alas seakan-akan jadi pemandangan yang biasa terlihat.

Rp350.000.000,-
Untuk membuat sumber air bersih baru di Desa Lai Lanjang dibutuhkan dana sebesar Rp350.000.000. Dana tersebut digunakan untuk membuat sumur baru serta membangun pipa-pipa air dan pompa dengan memanfaatkan energi yang diperbarukan.

Angka-angka tersebut menunjukkan kesulitan yang jelas dihadapi warga Desa Lai Lanjang. Untuk itu, Yayasan DIan Satrowardoyo, Waterhouse Project, dan Jenius ingin mengajak kamu memberikan perubahan besar bagi mereka. Kamu bisa ikut berpartisipasi dengan mengirimkan donasi melalui Jenius ke $CeritaSumba, Jenius Pay, atau transfer dari bank lain. Jika kamu mengirimkan donasi dengan Jenius Pay atau $Cashtag, Jenius akan menambahkan 10% dari setiap donasimu.

Bayangkan betapa bahagianya anak-anak Desa Lai Lanjang apabila kita bisa mendekatkan yang bermakna bagi mereka. Langkah kecil kamu akan sangat berarti untuk mereka. Ayo, jadi bagian dalam #CeritaSumba.

Belum punya Jenius? Download sekarang, lalu masukkan referral code $CeritaSumba saat registrasi. Kunjungi jeni.us/ceritasumba untuk informasi selengkapnya.


Share this news to: